untuk yang kesekian kali bertahan dengan harapan yang hanya tersisa tak kurang dari sejari bayi. meringkuk dalam kesendirian di tengah-tengah hirukpikuk kehidupan. berjalan dengan beban yang dua kali badan.
sementara orang-orang tertawa riang di sepanjang jalan, tidak siang tidak malam, mereka kunci semua hati. dengan luka yang menderas aku bebat lobang menganga di dada dengan doa, menyeret tertatih dengan senyum dan tawa yang seperti baik-baik saja, satu persatu pergi.
ulah para durjana kata-kata yang pintar memutar balikkan cerita,
sampai pada jejakmu yang telah mengendap di sanubari,
sirna melupakan janji-janji terpatri.
dan kini aku bertahan dengan belati di tangan kiri
berulangkali otakku mengajak untuk mengakhiri saja jalan ini
dengan aroma bunga kamboja, mereka atau aku yang mati
http://samudrabirucinta.blogspot.com

No comments:
Post a Comment