Showing posts with label puisi sosial. Show all posts
Showing posts with label puisi sosial. Show all posts

Tuesday, February 15, 2011

Merapi Kembali Berpuisi

Merapi Kembali Berpuisi

aku selalu saja kesulitan jika harus membuat kata kalimat yang tepat tentang alam. tapi ini kali aku akan merayu tuhan. agar selekasnya memperlihatkan keindahan.

o, tuhan hidup diantara tunas-tunas yang entah dari mana datangnya. kabar yang aku dengar, titik bening embun pagi mengirim benih tanpa memilih. diam dan ikhlas. tak pamrih tak juga menepuk dada meski jelas berjasa.

"wahai, ini aku!", ya ini aku!" teriak tunas mungil itu.diantara debu dan abu arang hitam. "ini aku kawan!", sudah jangan bersedih. kami datang dengan yang lebih indah ke depan. tuhan Maha Penyayang.

foto: oleh Gus Adib Machrus, Lokasi: Lereng dusun Kinahrejo Lereng Gunung Merapi


14 februari 2011
samudrabirucinta.blogspot.com

Tuesday, February 8, 2011

Para Bedebah Berkedok Agama

di mana hati nurani mereka!
ketika tubuh setengah telanjang
tak berdaya
berlumur darah
bercampur tanah
digebuki bak binatang pembawa wabah!

benarkah mereka
beragamakah mereka
wahai saudara, tolong jawab?

mengucap takbir
benar di hati? atau,
hanya di mulutmu yang basi!

banyak jalan damai mengapa harus dengan air mata, darah dan nyawa saudara?













samudrabirucinta.blogspot.com

Wednesday, January 19, 2011

Puisi Spontan di Yahoo Answer

Dari seseorang di Yahoo Answer meminta tolong untuk membuatkan sebuah puisi untuk adiknya dengan tema "kesehatan anak". entah mengapa aku juga ingin menempatkan di ruang ini. tiba-tiba saja rasa yang teramat sulit untuk aku eja setiap teringat Ibu. hanya mata yang berbicara serta berembun ketika mengingat jejak rekamnya. seluas samudra biru pun tidak akan cukup melukiskannya.


aku yang lelah, terus berlari menembus rinai hujan
aku hanya berfikir sampai di rumah dan bertemu ibu
tubuhku yang kecil seperti melayang
ketika menerjang air yang menggenang sepanjang jalan
tak aku hiraukan lumpur hitam yang mulai merubah warna seragam

aku melihat beberapa kawan berteduh di gardu-gardu keamanan
mereka memanggil-manggil, tapi suara mereka hilang tertelan deru air
dengan tergesa aku buka pagar halaman melompati perdu taman menerobos pintu depan
tetesan air hitam dari seragam seketika membasahi lantai rumah

aku panggil-panggil ibu dengan suara keras
tapi tidak aku dapati selain pembantu
ibu belum pulang "katanya, sembari membawakan aku handuk
sekian hari setelah itu, aku terserang batuk

tubuhku mengigil, demam yang begitu tinggi menghampiri
kini ibu yang menjadi cemas, mengobati dengan kasih sayangnya tiada batas,
sambil berkata" lain kali kamu tidak boleh mengulang lagi ya nak?
jaga kesehatanmu dengan tidak mengindahkan nasehat ibu
aku terdiam, menatap sepasang matanya yang teduh, lantas memeluknya erat


maaf, hanya ini yang bisa saya berikan dengan spontan semoga berkenan, karena sungguh hampir tidak pernah saya membuat puisi yang bertemakan demikian dan juga untuk dibaca anak-anak. mohon maklum, tapi jika berkenan bisa berkunjung ke samudrabirucinta.blogspot.com barangkali dari sekian puisi sederhana kami ada yang sesuai dengan tema.

salam hangat saya dari hati.
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20110119064651AA0rpCG&answerer=kGo2DANiaa&hash=10955278fb20f8dc1f45415535d6c898d9a11e7f69702641a25eec6ef5d17716

Thursday, January 13, 2011

Aroma Bunga Kamboja di Siang Hari


untuk yang kesekian kali bertahan dengan harapan yang hanya tersisa tak kurang dari sejari bayi. meringkuk dalam kesendirian di tengah-tengah hirukpikuk kehidupan. berjalan dengan beban yang dua kali badan.

sementara orang-orang tertawa riang di sepanjang jalan, tidak siang tidak malam, mereka kunci semua hati. dengan luka yang menderas aku bebat lobang menganga di dada dengan doa, menyeret tertatih dengan senyum dan tawa yang seperti baik-baik saja, satu persatu pergi.

ulah para durjana  kata-kata yang pintar memutar balikkan cerita,
sampai pada jejakmu yang telah mengendap di sanubari,
sirna melupakan janji-janji terpatri.

dan kini aku bertahan dengan belati di tangan kiri
berulangkali otakku mengajak untuk mengakhiri saja jalan ini
dengan aroma bunga kamboja, mereka atau aku yang mati


http://samudrabirucinta.blogspot.com

Tuesday, December 7, 2010

Rambut belah tujuh


di pagi yang cerah
pertaruhkan langkah,
tabiat baru
khianat yang lalu,
tercatat sudah

daun luruh,
tergantikan tunas
memula sebelum masa berakhir,
tertimbun seluruh raga

keruh hilir hingga muara
apalah kita pada kepongahan
beban beratnya jatuhkan kita
di rambut belah tujuh

gambar: google

Sunday, December 5, 2010

Yang Tua yang Istimewa

















pic from google


Yang Tua yang Istimewa, Yang Muda yang Merana

pada dini hari yang sepi. pada pagi yang masih jauh dari rekah mentari, dalam kesendirian yang sangat mengiris nadi. menerka-nerka, kali saja ada malaikat yang lewat, lewat desir angin, lewat suara binatang yang mengerat. atau luruhnya daun kering yang bersujud ke bumi dengan khidmat.

ah, aku tersenyum kecil dengan imajiku yang dangkal. ya, sedangkal telunjuk mereka yang menunjuk agar terbebas dari penjara sangka, tidak peduli asal mendapati citra dunia.

sebenarnya aku kesal tapi juga tidak menyesal. bisa apa aku? selain diam tak menyangkal. terjatuh, dan diinjak sedemikian rupa sebagai tumbal. aroma darah ibuku masih terasa kental, ketika melahirkanku ke dunia fana yang tak kekal. 

tidakkah engkau melihat senja yang kian menemaram, tidakkah engkau melihat karma akan mejadi petaka yang menerkam di masa-masa yang akan datang? atau, setidaknya engkau sedikit bijak saja agar meredam keadaan.

o, aku melupa. yang engkau mau hanya satu. aku, juga mereka-mereka membungkukkan badan. selayaknya  dihadapan sang raja yang kebal. aku kata; nikmati, jangan tergesa-gesa. ambil saja semua, jangan pula ada yang tersisa.


06 desember 2010
amlapura-bali

Thursday, December 2, 2010

mati dalam dekapan Tuhan

deretan abjad menggeliat sesaat menatap. entah apa yang ada dalam benak. melihat seorang lelaki dengan raut benamkan dalamdalam ke lutut. di sudut malam, dikelilingi kabut hitam masa silam. lelaki perkasa itu lunglai terbantai keadaan.

tiktak jam tua berdentang tepat tengah malam. beradu cepat dengan suara-suara binatang melata yang mencari mangsa. lelaki itu tetap pada tempatnya, mata sayunya menatap kosong dalam ruang remang bias  rembulan.  gumintang di luar tak mengusik hatinya.

tetap memeluk lutut beringsut menunggu bidadari pagi atau berharap malaikat datang menjemput. berakhir dengan maut yang lembut atau luput wangi surgawi sudah tidak penting di batang tengkoraknya. baginya, ingin mati dalam dekapan Tuhan.

www.wix.com
 

potret kehidupan
03 desember 2010

Saturday, August 7, 2010

teh hangat di sebuah tempat

apabila melakukan seperti ini, bagaimana?

teh hangat, setelahnya bagaimana baiknya saja.

telah tiga purnama, tujuh kelopak mawar merah merekah
engkau setiai satu hati yang telah terpilih hingga Nanti
tidak hentihenti di segala daya menindih permohonan
tentang janjijanjinya, berharap serupa mentari pagi
engkau diam saat larut malam, juga aroma wanita
menjadi candu serasa tak akan berkesudahan

: padahal rasa Nyaman saja yang diinginkan

o, duhai engkau yang bersuara nyaring
jangan membuai dia yang sedang genting
sepanjang hari mencumbui rantingranting kering

o, duhai engkau yang bersuara emas
jangan membuai dia yang sedang cemas
sepanjang hari meski dingin, rasa meranggas

o, duhai engkau yang bersuara merdu
jangan membuai dia yang sedang merindu
sepanjang hari pandangi batubatu tak berpintu

ya sudahlah, seduh teh hangat tanpa gula
bicaralah selayaknya orang yang sudah dewasa
antara engkau dan dia di sebuah tempat sederhana
saling menatap juga tersenyum sesekali tergelak pantas
lantas berjabat tangan ikhlas jangan beranjak sebelum Tuntas!

duhai, bagaimana?



anto hprastyo
agustus 2010
amlapura
bali



terimakasih untuk seseorang yang telah berkenan untuk menjadi inspirasi puisi sederhana ini.

Tuesday, May 11, 2010

Terpasung Pada Rutinitas Semu


belenggu

janji tanda jemari menggores kertas
tersunting dalam keterpaksaan,
memenuhi ikatan balas budi
menjadi tali yang sangat liat mengikat erat

bukan hinggap di puncak kuasa yang kumau
tapi di pucuk pucuk hijau daun kata,
agar aku dapat melihat tumbuh anak-anak kita
bermain di taman taman liar,
yang beraneka warna bunga
tanpa sekat

berlarian diantara rimbun dunia
berkejaran diantara hiu hiu kecil kata
bergumul diantara bentang kehidupan jalanan
aku muak dengan angka-angka semu
aku kata tidak untuk senyum semu abu
dengan dasi warna kembang kematian
pun kemeja diatur sedemikian rupa,
itu bukan aku.

anto hprastyo
mei 2010
bali

Friday, May 7, 2010

DERMAGA MAYA



potret kecil di dermaga Maya

tembang kasmaran, kidung cinta, nada nada rindu
terhampar melendang dari segala penjuru
jarak tak bersekat,
nampak Nyata di rasa
: nandang asmara

kata kalimat meruap penuh nikmat
bertabur bungabunga dengan segala aroma
membuai, ada pula yang mengiris buah derita
dengan tangis mengiringi di tiap waktu
: kosong tak bermakna



samudraBiru
Mei 2010
Bali

Tuesday, March 9, 2010

lelaki sederhana belajar dari sang pujangga kata

:para pujangga


wahai para pujangga?
kata kalimat yang kau lukis di dinding berandamu
rimbunkan batas ejaku, hijau daun di halaman

ku pungut satu-satu
dengan hati, aku letakkan di keranjang sanubari

menempa pena sederhanaku, selagi di bungkus kata bara
jadikan tajam penuh arti di bentang masa

di tiap nama ku pahat,
di ruang ingatan
hiasi tepi

tahukah engkau?
hidangan yang kau sajikan,
kenyangkan rasa merasuk ke jiwa
tak sebatas singgah di lidah semata

perjalananmu telah menempuh jauh
rambu palsu terpajang miring
menelikung di tiap waktu

serbuan tentaratentara lain warna
yang sejatinya sama, menggelitikmu
kibarkan panjipanji
adu pengakuan


anto hprastyo

Thursday, January 21, 2010

Hutan Beton

hutan kota tumbuh di mana-mana
anak-anak bertelanjang kaki
bermain bola di atas rumput beton


tiada lagi sisa perdu meski,
hanya sebagai penghias di pojok kampung
tidak lagi aku temui pohon trembesi
tidak lagi aku temui pohon jati
mereka tergantikan tembok-tembok menjulang tinggi

o, aku hanyalah pohon teki
biarkan kini tumbuh tanpa harus terusik lagi
biarkan aku liar dan menjalar menciumi isi bumi
biarkan aku diam dan tidak mengusik ketenangan
di pojok sendiri
menatap keserakahan tangan-tangan manusia






Bali, Januari 2010
http://samudrabirucinta.blogspot.com/

Saturday, January 2, 2010

Pengakuan

:untukmu JP

engkau bisa diam-diam sembunyikan segala hal
termasuk dibalik topengmu yang menawan
namun tidak terhadap Tuhanmu

engkau hanya butuh datang
dan berkata" ...
ampun Tuhan, ampun Tuhan, ampun Tuhan!

sebelum jauh engkau mainkan samar parasmu,
mengundang bertandang, kerna pesonamu
segeralah meminta maaf padaNya,
di sepanjang malam dan siangmu

jadi mengapa, engkau?
mau diperbudak jiwa ragamu sendiri, kawan?

gelisah membuncah resah,
hingga memerah
pecahkan nadi
hilang kendali

Tuhan
hanya butuh pengakuan, wahai?
ambil haluan, kembali ke Jalan yang ditentukan

kendati lika-liku kehidupan bak panggung sandiwara
berganti-ganti peran saat dipentaskan
jangan surut langkah, wahai?

tetapkan pada tujuan awal
berpegang pada niat mulia
yang t'lah engkau taburkan






















25 desember 2009