Showing posts with label puisi ibu. Show all posts
Showing posts with label puisi ibu. Show all posts
Thursday, February 3, 2011
Hanya Sekotak Doa Sepanjang Waktu Untukmu
senyum terakhirmu masih aku kenang ketika aku tinggalkan kampung halaman
bahkan akan selalu terbayang hingga aku pun meninggalkan kehidupan
ibu, sebetulnya ada hal yang harus aku sampaikan seperti ketika aku kecil dulu,
menyambutmu di depan rumah bambu kita, seperti biasa bibirku tak hentinya bercerita
tentang aku yang menang bermain bola atau hanya sekedar tidur siang saja
dan engkau selalu tersenyum, bahasa tubuhmu mengiyakan semua celotehku
ba'da maghrib adalah waktu yang paling membahagiakan sepanjang hari-hariku
tiada kemurungan tiada pula linangan airmata kesedihan
begitu alami, berjalan penuh kedamaian dengan rutinitas yang sudah pasti
lampu teplok pun meredup pertanda malam sudah larut
dekapan tanganmu senantiasa memberi rasa yang tak tergantikan
ada kenyamanan, ada keteduhan, ada kelembutan
yang teramat sulit aku sampaikan meski melalui kata kalimat
terlelap, hingga aku dapati selepas subuh engkau sudah pergi
menjemput impian, menghidupi kami anak-anakmu tersayang
ibu, sejujurnya saja aku tidak sanggup melukiskan semua ini
terlalu indah untuk dikenang, membuat airmata menderas berlinang
engkau telah tiada, hanya sekotak doa yang aku punya
sebuah permohonan aku kirimkan disunyinya malam
semoga engkau selalu di sisiNya,
tersenyum indah seperti yang sudah-sudah
dilelap, lelahku melangkah menghadapi onak duri
masih terpasung, dengan kaki yang masih terikat berkarat
berharap, malaikat berdiri dengan senyum hangat
sebuah kebebasan yang dinanti sepanjang hari
Bali, 04 Januari Pagi 2011
Wednesday, January 19, 2011
Puisi Spontan di Yahoo Answer
Dari seseorang di Yahoo Answer meminta tolong untuk membuatkan sebuah puisi untuk adiknya dengan tema "kesehatan anak". entah mengapa aku juga ingin menempatkan di ruang ini. tiba-tiba saja rasa yang teramat sulit untuk aku eja setiap teringat Ibu. hanya mata yang berbicara serta berembun ketika mengingat jejak rekamnya. seluas samudra biru pun tidak akan cukup melukiskannya.
aku yang lelah, terus berlari menembus rinai hujan
aku hanya berfikir sampai di rumah dan bertemu ibu
tubuhku yang kecil seperti melayang
ketika menerjang air yang menggenang sepanjang jalan
tak aku hiraukan lumpur hitam yang mulai merubah warna seragam
aku melihat beberapa kawan berteduh di gardu-gardu keamanan
mereka memanggil-manggil, tapi suara mereka hilang tertelan deru air
dengan tergesa aku buka pagar halaman melompati perdu taman menerobos pintu depan
tetesan air hitam dari seragam seketika membasahi lantai rumah
aku panggil-panggil ibu dengan suara keras
tapi tidak aku dapati selain pembantu
ibu belum pulang "katanya, sembari membawakan aku handuk
sekian hari setelah itu, aku terserang batuk
tubuhku mengigil, demam yang begitu tinggi menghampiri
kini ibu yang menjadi cemas, mengobati dengan kasih sayangnya tiada batas,
sambil berkata" lain kali kamu tidak boleh mengulang lagi ya nak?
jaga kesehatanmu dengan tidak mengindahkan nasehat ibu
aku terdiam, menatap sepasang matanya yang teduh, lantas memeluknya erat
maaf, hanya ini yang bisa saya berikan dengan spontan semoga berkenan, karena sungguh hampir tidak pernah saya membuat puisi yang bertemakan demikian dan juga untuk dibaca anak-anak. mohon maklum, tapi jika berkenan bisa berkunjung ke samudrabirucinta.blogspot.com barangkali dari sekian puisi sederhana kami ada yang sesuai dengan tema.
salam hangat saya dari hati.
Tuesday, November 23, 2010
berkencan denganmu sungguh indah ( Ibu )
tibatiba saja merindu ingin kembali tertidur lama di pangkuanmu seperti masa kecil dulu, menarik perhatianmu dengan kenakalanku, yang terkadang membuatmu harus mengalah meski ragamu lelah.
sejak terbit mentari hingga tenggelam kembali, aku menunggu dengan setia kedatanganmu. berkencan denganmu o, sungguh membahagiakan. di pintu pagar bambu rumah kita aku ciumi punggung tanganmu.
sering aku dapati usai subuh mendengar pengharapanmu yang tulus dari sisi pembaringan sembari tanganmu mengusap keningku sebelum beranjak pergi dan menghilang di buta pagi, demi kami anak-anakmu.
aku, masih enggan turun dari peraduan sebelum tapak berat langkah kaki bapak terdengar datang mengingatkan. heemm ... masa itu. Ibu, ya siapa yang dapat melukiskannya? yang ada mataku tibatiba berembun, jika mengingat kembali tiap jejak rekamnya. makhluk indah ciptaan Tuhan yang satu ini sungguh tak lekang jaman untuk senantiasa dikenang.
edisi: puisi ibu
edisi: puisi ibu
24 November 2010.
amlapura-bali
Monday, September 6, 2010
Doa Kembang Setaman Buat Ibu [Lebaran]
: doa dalam kembang setaman
sebulan jalankan puasa dengan penuh pesona ramadhan yang menawan. menggenapkan angan dalam perantauan pulangku pada kampung halaman. melendang bayang pagar bambu apus juga kandang ayam di rindang liar taman. aroma kretek bapak menyelinap cepat dalam batok ingatan tentang arti kesetiaan. berjejerjejer rimbun perdu sepanjang jalan persawahan menjadi saksi berulangkali, derap kaki, isak tangis menyayat, wajah wajah mendung mengusung keranda kematian: satu diantara nisan tua ada sebuah nama. Ibu? aku pulang, bawa doa kembang setaman.
ramadhan 2010
amlapura
bali
Friday, April 30, 2010
Catatan kecil tentang Ibu

mengeja senja
di senja
sinarnya mengeja
satusatu, mata para perindu
di senja
sinarnya meredup
perlahan berselimut malam
di senja,
ada cerita
dua jiwa menepi
mengucap janji seia
di senja
serupa umur
aku, engkau juga mereka
: ditunggu kubur
di senja
apalagi yang engkau dapat?
yang terkadang terhalang mendung
hingga sinarnya tak dapat engkau pandang?
sementara bekal, belum genap mengendap di jiwa
di senja
entah apalagi
aku kehabisan kata
keindahannya juga tanda bacanya
di cekung
di tangis
di duka
di binar
di Segala
: Tergambar
anto hprastyo
30 april 2010
bali
catatan kecil tentang ibu
saat aku kecil, seringkali tidak mendapati ibu. sejak subuh sudah bergegas pergi. saat aku dewasa tak ada di dekatnya, jauh jarak tak dapat menyentuh raganya. dan saat aku kembali. sudah aku dapati, ibu telah di kafani. Ya Allah ...

anto hprastyo
30 april, 2010
bali
Saturday, January 2, 2010
SATU SAJAK UNTUK IBU 22 DESEMBER 2009 ( alm. Ibuku Tercinta )
Ibu
: special hari ibu "ibuku ibumu"
ibu, apalagi yang hendak aku katakan
semenjak dalam kandungan,
tak banyak yang dapat aku persembahkan
hari demi hari berlalu
perih pedih kau lewati
kendati hidup merambah tak pasti
tetap saja sabar menikmati
ah, engkau pahlawan sejati kami
ibu, apalagi yang kini aku banggakan
pada diri yang belum juga mampu berdiri
tak banyak yang dapat aku berikan
selain bakti yang belum sempat aku tunaikan
engkau jiwa yang suci selalu mengampuni kami
ibu, apalagi yang telah aku coba lukiskan
pada diri yang terus menerus membuat resah,
pada siang dan malammu ..
pada petang dan pagimu ..
pada lelap dan terjagamu ..
engkau tetap tengadahkan tanganmu,
untuk kami yang tak jua mengerti ini
ibu, bagaimana aku ganti semua ini
tanda jasamu yang tiada terperi
memberi kami tanpa meminta kembali
engkau benarbenar, titisan dewa dewi
ibu, ijinkan kini aku memelukmu,
menjagamu, sungkemku hanya untukmu
maafkanlah aku,
aku telah mengabaikanmu
batu nisan kini telah luntur,
lapuk termakan jaman, namun tidak kenanganmu
yang tak lekang oleh roda waktu
menyirami pusaramu,
mengirimi bulirbulir do'a untukmu
terpancar di tiap terjagaku
ibu ..

anto hprastyo
bali-indonesia
nb:
terimakasih untuk saudaraku M. Syarif Kh ( mojokerto )
: special hari ibu "ibuku ibumu"
ibu, apalagi yang hendak aku katakan
semenjak dalam kandungan,
tak banyak yang dapat aku persembahkan
hari demi hari berlalu
perih pedih kau lewati
kendati hidup merambah tak pasti
tetap saja sabar menikmati
ah, engkau pahlawan sejati kami
ibu, apalagi yang kini aku banggakan
pada diri yang belum juga mampu berdiri
tak banyak yang dapat aku berikan
selain bakti yang belum sempat aku tunaikan
engkau jiwa yang suci selalu mengampuni kami
ibu, apalagi yang telah aku coba lukiskan
pada diri yang terus menerus membuat resah,
pada siang dan malammu ..
pada petang dan pagimu ..
pada lelap dan terjagamu ..
engkau tetap tengadahkan tanganmu,
untuk kami yang tak jua mengerti ini
ibu, bagaimana aku ganti semua ini
tanda jasamu yang tiada terperi
memberi kami tanpa meminta kembali
engkau benarbenar, titisan dewa dewi
ibu, ijinkan kini aku memelukmu,
menjagamu, sungkemku hanya untukmu
maafkanlah aku,
aku telah mengabaikanmu
batu nisan kini telah luntur,
lapuk termakan jaman, namun tidak kenanganmu
yang tak lekang oleh roda waktu
menyirami pusaramu,
mengirimi bulirbulir do'a untukmu
terpancar di tiap terjagaku
ibu ..

anto hprastyo
bali-indonesia
nb:
terimakasih untuk saudaraku M. Syarif Kh ( mojokerto )
Subscribe to:
Posts (Atom)



