Showing posts with label kumpulan puisi pendek. Show all posts
Showing posts with label kumpulan puisi pendek. Show all posts

Tuesday, February 15, 2011

Merapi Kembali Berpuisi

Merapi Kembali Berpuisi

aku selalu saja kesulitan jika harus membuat kata kalimat yang tepat tentang alam. tapi ini kali aku akan merayu tuhan. agar selekasnya memperlihatkan keindahan.

o, tuhan hidup diantara tunas-tunas yang entah dari mana datangnya. kabar yang aku dengar, titik bening embun pagi mengirim benih tanpa memilih. diam dan ikhlas. tak pamrih tak juga menepuk dada meski jelas berjasa.

"wahai, ini aku!", ya ini aku!" teriak tunas mungil itu.diantara debu dan abu arang hitam. "ini aku kawan!", sudah jangan bersedih. kami datang dengan yang lebih indah ke depan. tuhan Maha Penyayang.

foto: oleh Gus Adib Machrus, Lokasi: Lereng dusun Kinahrejo Lereng Gunung Merapi


14 februari 2011
samudrabirucinta.blogspot.com

Thursday, January 20, 2011

Tidak Menyangka

pintu itu tiba-tiba beku padahal siang kali ini mampu membakar kulit ari.

aku berharap engkau tunjukkan bahasa cinta,  kerna aku meyakini cara Tuhan mendekatkan hati  meski melalui  badai samudra.

tapi, sampai pada leher ditempeli belati tidak ada kata yang dapat mengobati rasa, meski pun hanya menunda nafas agar tak berhenti sia-sia.

sungguh mengherankan, tapi itu nyata cinta dunia yang harus diterima. aku kembali melangkah, dengan darah yang mulai menetes di retak bumi yang telah aku jejak.


Bali, 21 Januari 2011
http://samudrabirucinta.blogspot.com/

Wednesday, January 19, 2011

Samudra Biru

gelombang samudra itu akan selalu tenang jika engkau tak datang menerjang
gelombang samudra itu akan selalu teduh jika engkau tak gaduh membuat keruh
gelombang samudra itu akan selalu riang jika engkau tak mengarang bayang angan
gelombang samudra itu akan selalu beriak damai jika engkau tak teriak berandai-andai


http://samudrabirucinta.blogspot.com/

Saturday, December 25, 2010

Catatan yang terpenggal

sangat merindu menulis bait kalimat yang penuh sarat. penuhi dahaga yang lama terbekam  keadaan. kelebat hitam masa silam mengurung dari Segala penjuru tiada henti. hingga hanya tersisa satu tempat saja di sudut malam, menyetiai sepanjang hari.

aku melihat, ini kali langit siang sungguh biru, merayu dengan awan putih menawan melayang jalang. tiba-tiba,  di mataku pesona yang nampak serupa janji yang pernah engkau kabarkan ke mayapada sekian masa yang lalu.

satu pesan singkat masuk, selepas zuhur "bapak terjatuh dari tangga bambu rumah kita". bergegas dengan cemas yang amat sulit aku kemas dalam kata-kata, aku menemui melalui suara "tidak apa-apa nak", semoga masih dapat dibetulkan tulang-tulang bapak", dan kaki tua bapakmu ini masih layak untuk menjejak bumiNya yang kian renta". aku mendengar, dan ingin di dekatnya.

miracle












Desember siang, 2010

Lelah



lelah melangkah,
menelaah hamparan hikmah
ingin istirah sejenak di atas dunia yang basah


Desember Pagi 2010

Friday, December 17, 2010

Catatan Kecil Desember Dini Hari

google pic
meramu sunyinya malam. dari jejak yang telah terlewat sekian masa. menemu lobang-lobang hitam menganga dalam pandangan. umur kian beringsut mengalir larut menuju muara, menemu kehidupan setelah dunia fana yang kadang berkabut.

o, tibatiba terpekur, yang entah pada titik keberapa meninggalkan semua. selain amal yang di dalam sanubari sebagai bekal nanti. pada ujung rambut seperti sedang berbicara. hingga ujung kaki meminta untuk menundukkan kepala. setelah sekian lama, mendongak pada kesombongan yang membuat lupa.





Desember, 2010

Friday, December 10, 2010

Bening ke Hening

kekasihku bermata bening,
yang menelaga di puncak hening
kita cumbui sunyi malam tanpa denting,
di kehidupan yang sering mengurung daya pikir

aku katakan pada Tuhanku
wahai yang Maha  Welas kami bergegas, 
semata-mata kerna Engkau yang Maha Luas.

November, 2010
Bali

Thursday, December 9, 2010

atas ijinNya

jika suatu saat, atas ijinNya. aku diperkenankan mengambilmu dari perlindungan orang tuamu. percayalah, engkau akan menemu kebaikan di sini.


jika suatu saat, atas ijinNya. kita dalam biduk bahtera, aku ingin kita sejiwa. bersinergi utuh, menempuh tak lelah mengayuh.


engkau tahu? bukan semata ragamu yang menarik hingga mengalihkan daya fikirku. tapi terlebih pada jiwaku yang merasa nyaman ketika berdekatan denganmu.


~ samudra biru ~

Tuesday, December 7, 2010

ada rindu dan Rindu

aku ingin beradu pandang setiap putaran waktu
serupa bumi memandang langit
meski kadang terhalang kabut juga mendung yang cemberut
aku ingin seperti riak damai samudra
ciumi bibir pantai yang tak berkesudahan,
hingga Masa tiba
di mana bibirmu
di mana matamu
aku takut menjadi candu
rinduku padamu tetap ada
rinduku padaNya paling Utama


foto: Google




















karya di tulis
Juli 2010

Setelah Subuh

selepas subuh juwitaku. melepas jubah keangkuhan, apalah kita ini, di segala jelaga melekat tanpa disadari berbuat. sudah pagi juwitaku, bangunlah! sebentar saja mengaji pada alam. bersih bukan? pagi yang indah. serupa bayi yang baru lahir dari rahimmu.







November Pagi
2010

Karena Kamu

terang bulan di dalam kamar
wajahmu tersenyum manis,
menggantung di langit-langit.

foto: google

Harapan

sekian waktu terpaku di depan pintumu
ketukan lembutku belum juga engkau sambut
aku tulis sebuah nama di selembar daun lontar
sebelum meninggalkan berandamu yang sunyi lengang
berharap pesan terbaca, genapkan asa yang diburu masa
kini, aku hanya dapat berharap sembari bermain abjad dan bait
: di sela jeda tanda tanya.

foto: rosamund kwan

Rambut belah tujuh


di pagi yang cerah
pertaruhkan langkah,
tabiat baru
khianat yang lalu,
tercatat sudah

daun luruh,
tergantikan tunas
memula sebelum masa berakhir,
tertimbun seluruh raga

keruh hilir hingga muara
apalah kita pada kepongahan
beban beratnya jatuhkan kita
di rambut belah tujuh

gambar: google

Monday, November 8, 2010

Nol


Nol

pagi hari yang gaduh
pada tarikan nafas setelah subuh
kau membunuh cinta tulus dari jauh























November, 2010
amlapura-bali

Saturday, October 16, 2010

warniwarna potret kehidupan



















siang yang elok
panasnya hingga ke tetangga sebelah
seorang anak lari terbirit dari rumah
sini nak! kataku" ada rotiku belah setengah



terang bulan di dalam kamar
wajahmu tersenyum manis,
menggantung di langit-langit



terdengar kalimah panggilan
beberapa bergegas ke pancuran masjid
seorang pengemis mengorek sampah,
baginya maghrib berkah melimpah




malaikat berkunjung ke desa kami
seorang kawan terdekat sekarat
kokok ayam beradu tenggorokan
jasadnya kaku di subuh




di pagi yang cerah
pertaruhkan langkah,
tabiat baru
khianat yang lalu
tercatat sudah

daun luruh,
tergantikan tunas
memula sebelum Masa

keruh hilir hingga muara
apalah kita pada kepongahan
beban beratnya jatuhkan kita
di rambut belah tujuh



siangku terbakar
senjaku membisu
malamku membeku
pagiku membatu,
mengapung
di waktu



belum juga bisa disebut waktu maghrib,
cuaca mengabu menemaram lebih cepat
gerimis sejak tengah hari,
melukis grafiti hati
jejak pilu pedagang kaki lima di kotaku
kuyup mendorong gerobak kehidupan
dengan wajah cemas berharap



pungguk merunduk
memeluk batu terbenam dalam
di tanah hitam tiada kehidupan

lelah berkilah
pada amanah langkah
ah, dibelah saja sudah
: aku mengalah

Monday, August 30, 2010

BERANDA KATA

ketika matamu berembun


malam yang basah,
memenuhi dinding hati
seorang gadis bermata sembab
gelisah, berkisah di ujung lelah yang sangat

bukan perkara mudah di benak kita
serupa telapak tangan di balikkan begitu saja
menjadi pendengar yang baik di sebalik gundahnya
sudah menjadi pelipur lara yang sangat dinantikannya.


apa adanya

aku bukan pujangga
bukan pula sastrawan kata
jika engkau berkenan, kutandang
ku lukis wajah rembulan kala malam
di bening matamu yang menelaga nian


harapan

sekian waktu terpaku di depan pintumu
ketukan lembutku belum juga engkau sambut

aku tulis sebuah nama di selembar daun lontar
sebelum meninggalkan berandamu yang sunyi lengang
berharap pesan terbaca, genapkan asa yang diburu masa
kini, aku hanya dapat berharap sembari bermain abjad dan bait

: di sela jeda tanda tanya


ketahuilah, serupa ini yang aku damba.

sedang meramu, kumpulkan keberanian untuk menatap matamu yang sedang terbaca. ada rasa kecewa yang sangat. namun kata hatimu bahasakan rindu akan perjumpaan yang lama terpisah jarak. o, engkau yang indah, ijinkan aku buatkan surat bertinta biru bukan untuk merayu namun kagumku atas kesabaran yang engkau hidangkan setiap saat. membuatku semakin tenggelam dalam pelukan kasih tanpa ada rona seseg di dada kini.






catatan-catatan kecil
anto hprastyo
amlapura
bali

Wednesday, May 12, 2010

Kumpulan Puisi - Puisi I

perempuan berstempel

mengulang-ulang sejarah
senyum mengembang menarik para kumbang
kumbang marah mengoyak tangkaimu yang rapuh

tubuhmu berstempel
membalut rekat gesturmu
dengan manikmanik palsu menancap pori
: buka saja mahkota yang engkau lindungi agar tak menyakiti para Utusan

tak menyadari cerminmu retak
kerna tak pernah engkau sentuh
teronggok di fana duniamu yang gaduh!
: membuai mata perindu lelaki perlente hamburkan nafsu

sungguh dirimu sulit dibuat tenang
selalu bergoyanggoyang meliukkan tubuh,
sekalipun kitab suci di atas kepala

bagaimana lagi?
 
baru saja aku jejakkan kakiku yang lelah di kota sunyiku
jemarimu yang telah aku basuh air kerinduan yang dalam,
menampar tanpa salam.

bukankah sudah kubunuh malam kelam untukmu?
bukankah sudah kuhunus pisau Bismillahku?
bukankah sudah kuseduh hangat Hati ini?
tanpa perlu memandang langit, kerna ku percaya

diantara dindingdinding sekat yang berbisik itu?
aku mengiris, mengoyak, menyobek, membelah langit malam-malammu yang sepi!
yang telah menguras tangis sedihmu
di sepanjang siang dan malammalammu

kututup wajahmu yang sayu
dengan tatap penuh harap
kita meramu gelegak rindu
melukis tentang keadaan

tentang engkau dan aku yang kadang terpaku
memandang potret kehidupan yang mengurung pikir
ketahuilah hidup ini kekasih? akumulasi gerak pilihan Hati
dari titik hingga ke titik berbedabeda arti
: kerna kita hidup!

kontruksi cintaku sedang kubangun peradaban baru
kokoh, tidak rapuh
merengkuh kerna teduh.
ku bangun kembali kerinduan ini dengan peluh
berharap kita menyentuh tuai pada waktunya
ada doa dalam tiap hembusan nafas
tentang peta kita
diantara langkah yang lelah
: menempuh kayuh berirama hendaknya.

bagaimana lagi?
selain terus berjalan.

atawa berhenti?
engkau kembali mengerami sepi
hanya berkawan linangan, basahi matamu yang menghitam
menunggu Sang Kekasih-MU datang,
menagih janji?

lelaki tak berstempel
 
lelaki berkelahi sesama lelaki
jika menemu lelaki berseteru tangan dengan wanita!
dia lelaki;
tak berstempel Sejati


 

prasasti cinta


mencipta prasasti cinta di atas lembaran
mengeja satu dua kata di jeda senja
membungkus dengan doa malam
: di jemur di bawah rembulan


aku
 
saat aku terdiam
bukan sembunyikan kata cinta tentangmu

saat aku tenang
bukan diselimuti rasa kalut tentang hidup

saat aku merenung
bukan dilanda bingung tentang maut

aku adalah aku;
dengan segala dayaku, ku percayai
ku pertanggungjawabkan!

bermain peta masa depan di bentang masa
bersahabat sengat sinar matahari
pun temaram cahaya bulan di sepertiga malam
: melukis laku ku juga kamu

kritik

nama yang belagu;
aku cium engkau,
sebelum ku tendang keluar dari pintu.

embun pagi

ada embun kesiangan
terperangkap,
pada malam pertama
: pengantin baru

ibu
 
aku rindu ...
ibu aku dendangkan lagu-lagu
di atas sajadah yang engkau tinggal
ku tengadah

pejalan sunyi

aku pejalan sunyi
di tanda alam mencari arti
mengurai tiap denting
di sudut sudut malam

aku pejalan sunyi
melalui kata kalimat
memotret lekuk hidup
lewat kamera mata hati

aku pejalan sunyi
melangkah di gemerlap dunia
yang kian mengurung relung
tentang keadaan dan keberadaan

aku pejalan sunyi
menyulam angan di malam
diantara rimbun dunia
menghampar melendang





penyerupa

pada penyatuan dua hati, ada asma Tuhan
Dia menjadi pengingat, jika di sepanjang jalan yang dilewati
menemu onak
bersembunyi di rimbun semak

wahai penyerupa dunia
permainan topengmu?
cukup sudah!

mengoyak jalinan damai
yang terpeta sekian masa di hati
jangan kau bajak janji janji Illahi
yang terucap di atas kitab suci

aku mengingatkan!
lakumu yang kian meninggi
melawan tautan hati insani
saksi langit bumi

pena biruku bernyawa di ujungnya
gelegak tintanya hendak meruap,
jika engkau tebarkan rasa risau
katakata penaku menggores
tamat!

candi kata

aku persembahkan candi kata-kataku
setelahnya, bermainlah dengan diamdiam
cukup engkau, aku, Tuhan yang tahu

malam semu 

Ibu aku menemu malam semu
tapi aku akan tetap kirimkan doa
sebagaimana malam malam yang telah lalu

tembang malam 

berirama
mengalun tenang,
nyayian tembang siang ke senja

meredup
runduk

menemaram
leram

berdzikir
di malam

senyummu
 
meramu, tiap kenangan bersamamu
sewarna, merupa pelangi pelangi
setelah hujan senja terhenti
siluetnya melukis,
senyummu

puisi sederhana pengisi jeda

hanyalah puisi yang tiarap di meja
berhari hari tak kusentuh hingga berdebu
merayap kata satusatu ku eja aksara demi aksara
meluapkan rasa yang kian mengurung tiap harinya

hanyalah puisi yang tak berarti
melalui goresan tinta yang telah habis di telan masa
terbaca dengan mengeryitkan dahi, di tiap larik kata kalimat
kerna sejatinya aku juga tidak mengerti apa yang aku lukis?

hanyalah puisi yang terlahir dari rahim
meruap begitu saja tanpa permisi di benak dan otak
mengajak berdansa menari di setiap paragraf-paragraf
mengisi harihari yang kadang datang penat yang sangat

ya! hanyalah puisi yang mengisi di tiap hari

engkau tahu kawan?
serupa larikan ini

engkau hadir tawarkan dahaga
saat lelah terbang mengelana
tanpa tujuan

hinggap di pucukpucuk cendawan
pun bungabunga mawar berduri
hitam terbakar matahari

engkau suguhkan tarian erotis
di setiap penghujung lelapku
hingga pagi berseru

mengajak terbang ke langit biru
camarpun cemburu kepakanmu
yang cantik itu


mengupas buah di sepertiga malam 


di sepertiga malam
saat keheningan
ditawarkan

ku ambil pisau di lipatan hati
ku kupas buah yang tumbuh,
di sepanjang hari

buah ranum, buah matang, buah busuk!
pisau tajamku meliuk
mencari bentuk

membelah
menyayat
menusuk
mengiris

aroma anyir pun meruap
di tengah kesunyian

tanpa dentingan
pun jerit kepedihan

hanya hening bening
luruh menghamba
berserah diri

di segala nista, jelaga daki
yang mengurat lekat
di kehidupan fana


kumbang

hanya puisi kecil yang aku tulis sembari nikmati kopi hangat
di tepi jendela, memandang kumbang yang sedang kebingungan
kembang di taman menghilang, sejak tangantangan angkuh memetik
untuk persembahan dewa dewa, terlihat hanya mengitari pucuk tanpa kelopak

entah sampai kapan, berhenti meraung si kumbang jantan yang malang
apa yang dapat aku perbuat, selain mengabadikan kesedihannya saja
menjadi susunan tata kata kalimat biasa yang meruap di kepala
hingga terbaca dan menikmati kegalauannya yang sangat

ah, kumbang?



ditulis maret, 2010



plin-plan

benakmu melompat serong kanan serong kiri. ketakutan akan jalan yang engkau lukis sendiri. sementara rambu sepanjang jalan yang engkau tempuh penuh gambar erangan nikmat di sana juga di sini.

adakah engkau sadar? mempermainkan Hati? menambah deretan panjang kegelisahan juga kesepian yang tiada berakhir hingga Tamatmu pada Dunia. engkau gambar hidup pajangan di para Lelaki berkantong tebal dan belang. membayarmu untuk dapat memenuhi gaya hidupmu yang nampak sederhana namun Bergoyang goyang di tiup angin malam!













Cintaku seujung kuku 


Jangan cintai seseorang setinggi langit, karena langit bisa runtuh
Jangan cintai seseorang sedalam lautan, karena lautan bisa surut
Jangan cintai seseorang sebesar dunia, karena dunia bisa hancur
Tapi, cukup cintai seseorang seujung kuku,
meskipun kecil dan engkau tahu?
bila dipotong dia akan selalu tumbuh

by anto hprastyo
mei 2010
bali

Tuesday, April 27, 2010

ABJAD DI BENTANG LANGIT

abjad di bentang langit

abjad di atas awan
di tepi jurang kebebasan
di tiap tarikan nafas
gema terbelenggu
sabda raja kecil pujangga kata
membekam makna
bermukim di urat kalimat
di nadinadi huruf mati
genderang perang ditabuh
lidah menjulur
adu panjang
itukah caramu?
menemu hakikat kata?
mendaki bersamalah
ke puncaknya
atau?
kubiarkan kalian
dan aku melaju sendirian saja
persetan amat!


apa yang kalian cari?

ku melihat lagi
lelaki juga wanita
terlibat percakapan sengit
meregang
genderang perang ditabuh
berdebat serupa anak kecil berebut gula-gula.
adu kekuatan
seakan paling digjaya?
sementara di luaran sana
para penikmat baca tak jua mengerti
hingga larik akhir
sajian yang ada


ya sudahlah

baiklah tuan besarku,
aku akan melangkah keluar
sejauh yang engkau mau dari istana yang tuan puja.
dulu digadang juga diharap
habis masa panen tak lagi sudi melihat
tapi sebelum tapak tak nampak,
ijinkan ku menempa besiku
selagi panas dibungkus bara.
akan aku jadikan pena
dan ku goreskan di lembaran duka lara
yang tuan dan nyonya hadiahkan padaku tiap harinya

di jeda

malam ini seperti biasa
menikmati sunyi,
bercumbu
dengan eja kata di gelap malam
sendiri,
lembaran putih
menunggu sedari senja
tarian pena melukis suasana hati

:cermin

lelah letihmu
bukannya engkau yang ciptakan sendiri?
usaikan resahmu,
bersihkan cermin di sudut kamarmu,
debu yang melekat itu melukiskan
betapa engkau telah lama mengabaikannya
larut dengan cermin orang lain
hingga kerakmu tak nampak
lihatlah? bingkainya kian rapuh
jangan tunggu sampai rubuh
menimpa ragamu yang kian lusuh


anto hprastyo
april 2010
bali

Saturday, January 2, 2010

CINTA YANG SEDERHANA














: Sederhana

cintaku sederhana saja. aku bawa engkau bahagia
pada jalan benar, di sepanjang Jalan kehidupan



by anto hprastyo
bali-indonesia