Showing posts with label puisi kemarahan. Show all posts
Showing posts with label puisi kemarahan. Show all posts

Tuesday, February 8, 2011

Para Bedebah Berkedok Agama

di mana hati nurani mereka!
ketika tubuh setengah telanjang
tak berdaya
berlumur darah
bercampur tanah
digebuki bak binatang pembawa wabah!

benarkah mereka
beragamakah mereka
wahai saudara, tolong jawab?

mengucap takbir
benar di hati? atau,
hanya di mulutmu yang basi!

banyak jalan damai mengapa harus dengan air mata, darah dan nyawa saudara?













samudrabirucinta.blogspot.com

Tuesday, November 16, 2010

menemu kepalsuan

sebegitu  sering aku menemu sebuah senyum terkulum mengandung jenis racun yang mematikan. sebegitu sering aku menemu sebuah santun kata di dalamnya terdapat khianat yang melumat. sebegitu sering aku menemu matamata bening yang terpancar hanyalah kunang malam yang tersesat!



Saturday, November 13, 2010

diammu adalah matiku, tapi bahagiamu

diammu, matiku tapi bahagiamu

aku menghargai ketika engkau lebih memilih Dunia dengan pesonanya yang tibatiba, aku memahami jika di depan Sana menurutmu sudah pasti terang ketika berjalan dengannya. dan, aku juga Tidak menyesali jika aku hanya mampu mencintaimu dengan sangat sederhana

sesederhana cinta langit pada bumi di pagi hari. sesederhana cinta mentari pada semesta ini. sesederhana cinta tangis sang bayi mungil ketika haus di malam hari. sesederhana cinta rumput teki pada kaki, tidak mengaduh ketika engkau injak diamdiam. hanya pesanku, jangan engkau cabut. kerna akarnya menghubung ke bumi juga langit.


november pagi
anto hprastyo
amlapura - bali

Monday, November 8, 2010

Nol


Nol

pagi hari yang gaduh
pada tarikan nafas setelah subuh
kau membunuh cinta tulus dari jauh























November, 2010
amlapura-bali

Tuesday, August 31, 2010

EDISI GELEGAK SAMUDRA


Penghianat


ini ari serasa tersayat-sayat pisau berkarat, sesaat darah segar muncrat dilipatan benak masa yang telah terlewat. dicongkel, dicacah, digarami dijemur di atas duriduri senyum suka cita kisah dari bibir rekah mereka.

habis terkikis tanpa sisa hingga tinggal kerangka. lantas dipotong di sajikan kecil besar disorongkan pada moncong anjing-anjing pilihan. makanlah mereka bersamasama dalam satu wadah mengatasnamakan Kebersamaan yang nampak begitu hangat meski semu terlihat. dan aku hanya mampu berteriak dalam diam.

Penghianat!

Tuesday, May 4, 2010

puisi satu eksemplar


gelegak ombak Samudra


ingin rasa menggulungmu
di pelukan maut gelombangku
wahai engkau? irama riak damai
telah engkau ubah buih-buih ombak

kini, kian menjulang menyundul langit kesabaran
ke palung Samudraku ingin rasa melumat habis
dan hempaskan ke lingir pantai berkali-kali,
menyeratmu ke tengah gejolak lautku

aku masih hormati, hanya gelegak kata lidah terucap..
jika engkau lelaki? dengan sepenuh rasa Hati ini,
kita selesaikan dengan cara Lelaki
hingga satu diantara kita tiada!
: dan kembali memula


April, 2010