Showing posts with label Dunia Hewan. Show all posts
Showing posts with label Dunia Hewan. Show all posts

Tuesday, April 26, 2011

Buaya 2 Meter Menyelinap di Dalam Kamar Mandi

Samudra biru - Sebuah hal yang sangat tidak biasa telah terjadi. Dimana pada umumnya sebuah rumah paling sering mendapatkan tamu tak diundang berupa binatang seperti tikus, kucing dan sebagainya.

Tapi tidak dengan seorang perempuan yang tinggal di Tampa, Amerika Serikat, menemukan tamu akhir pekan yang tak diundang. Berupa buaya 2 meter menyelinap di dalam kamar mandi.

Alexis Dunbar mengatakan kepada WFLA-TV, ia telah bermalam di rumah seorang teman dan pulang ke rumahnya pada hari berikutnya. Ketika ia masuk ke dalam rumah, ia melihat buaya berukuran besar di kamar mandinya. Ia berteriak dan buaya itu mendesis serta mendekatinya.

Pacarnya memalang pintu kamar mandi dengan meja kecil untuk membuat buaya itu tak bisa keluar sampai seorang petugas dari Florida Fish and Wildlife Conservation Commission datang untuk membawa hewan itu pergi.

Yang paling membuat perempuan tersebut khawatir adalah buaya itu kelihatannya sudah ada di kamar mandinya cukup lama. "Tetangga saya mengatakan, ia mendengar suara di teras rumahnya seperti ketukan pada pukul 03.00. Jadi, buaya itu tentu sudah ada di sini sepanjang malam sampai saya pulang pukul 12.00 hari berikutnya," kata Dunbar.

Perempuan tersebut percaya buaya itu menggunakan pintu anjing di serambi belakang rumahnya untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia mengatakan, ia pernah melihat buaya tersebut di pinggir sungai di dekat rumahnya selama beberapa hari dan mengira buaya itu tentu sedang mengincar kucing peliharaannya.

Saat ini merupakan musim kawin bagi buaya di AS dan petugas margasatwa mendesak warga agar ektra hati-hati, terutama di dekat air. 


Saturday, April 23, 2011

Heboh, Ikan Lele 1 Meter Ditemukan di Selokan

Samudra Biru - Seekor ikan lele raksasa ditemukan seorang warga Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Tak tanggung-tanggung, ikan lele itu memiliki panjang 1 meter. Tak ayal penemuan ini membuat heboh, ikan lele 1 meter ditemukan di selokan.

Mukarom, warga Desa Gejakan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, mengatakan setelah ditimbang ikan lele berbobot sekira 9 kilogram. Dibutuhkan tiga orang untuk memegang ikan tersebut.

Sejumlah warga terus berdatangan ingin melihat dari dekat ikan yang ditemukan di selokan besar di depan Taman Makam Pahlawan Kota Nganjuk itu.

Warga mengaku heran melihat lele sebesar itu. Padahal pada umumnya lele hanya berukuran sekira 40 sentimeter.

Mukarom mengaku menemukan ikan saat bekerja mencari ikan di selokan depan taman makam pahlawan awal pekan ini. Ikan itu didapatinya dengan cara memasukkan alat setrum ke air.

Tanpa terduga, tiba-tiba alat setrumnya mengenai dua ekor ikan lele yang berukuran sangat besar dan langsung menggelepar kesakitan.

Dalam kondisi sekarat, satu ekor ikan lele berhasil ditangkap sementara yang satu ekor berhasil meloloskan diri.

Mukarom mengaku heran dengan lele temuannya. Meski sudah lebih dari 10 tahun menjadi pencari dan pedagang ikan belum pernah menemukan atau melihat ikan lele sebesar itu.

Bahkan di peternakan ikan lele jumbo pun, dirinya belum pernah melihat ikan seperti itu.

Dia mengaku tidak akan menjual ikan itu. Menurutnya, sejak ikan dipelihara di rumahnya, dia seperti mendapat berkah karena dagangannya di pasar terasa lebih ramai.


Link kami: http://samudrabirucinta.blogspot.com/2011/04/heboh-ikan-lele-1-meter-ditemukan-di.html

Tuesday, April 19, 2011

Kisah Ikan Duyung yang Selamat dari Bacokan Parang


Samudra Biru - Meskipun luka ikan duyung selamat dari bacokan parang. Warga pesisir di Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan digemparkan dengan seekor ikan duyung yang tiba-tiba muncul, Selasa (19/04/2011). Para nelayan pun berniat memotong untuk mengambil dagingnya.

Namun, entah mengapa ikan duyung yang tubuhnya sudah terluka akibat sabetan parang itu terus berenang hingga mendekati Jumaning yang sedang asyik mencuci bentang (tali) rumput laut di tepi laut.

Jumaning melihat ikan duyung itu seakan meminta pertolongan kepadanya. Si ikan terlihat menyelamatkan dari kejaran para nelayan. Maka, Jumaning pun menyelamatkan dan membawa ke rumahnya di Desa Garanta, Kecamatan Ujung Loe atau sekitar 3 Km dari tepi pantai,.

Ikan itu dibawa Jumaning dengan menggunakan jasa ojek. Saat Kompas.com bertandang ke rumahnya, terlihat ratusan warga berkerumun melihat ikan duyung itu.

Selama ikan itu di rumahnya, Jumaning bersama istrinya, Sugi (50), memberikan nasi, lauk ikan bahkan telur untuk memulihkan fisiknya. Karena kondisi ikan duyung berbobot 65 Kg dan panjang 1,5 meter tersebut memang tampak lemas.

"Waktu saya temukan, ikannya sudah lemas. Bahkan tubuhnya luka-luka akibat sabetan parang nelayan yang akan merebut dagingnya," ujar Jumaning.

Lantaran terlalu banyaknya warga yang penasaran ingin melihat ikan duyung tersebut, Jumaning lantas memberlakukan tarif Rp 1000 untuk sekali masuk.

Uang hasil kunjungan warga tersebut digunakan untuk membeli makanan ikan yang doyan dengan telur itu. Jumaning hanya berprofesi sebagai pencuci bentang dan penghasilannya tidak tetap. Ia mempercayai kehadiran ikan duyung itu merupakan pembawa rezeki bagi keluarganya. 

sumber 
Link kami: http://samudrabirucinta.blogspot.com/2011/04/kisah-ikan-duyung-yang-selamat-dari.html

Friday, April 15, 2011

Sejarah Gajah Dipergunakan untuk Berperang

Samudra Biru - Gajah, hewan berbadan besar dan kuat adalah indikasi yang pantas disematkan pada jenis hewan ini. Hewan Gajah untuk masa sekarang masih nampak dipergunakan perannya untuk membantu manusia, tidak hanya pada jaman dulu saja. Sebagai atraksi sirkus, atau beberapa di daerah habitatnya dipergunakan manusia untuk menarik kayu-kayu yang berukuran besar.  Lantas bagaimana dengan peran Gajah pada jaman dulu? Konon Gajah pada masa dulu dipergunakan sebagai sarana perang.

Gajah Perang adalah Gajah yang dipergunakan untuk berperang dalam sejarah militer di banyak negara di dunia pada zaman dahulu. Kegunaan gajah perang adalah untuk kendaraan dalam perang serta untuk mematahkan barisan dan menginjak-injak musuh. 

Awal penggunaan gajah dalam perang pertama kali dilakukan di India, ketika gajah disediakan sebagai salah satu sayap dari empat sayap dalam militer India.

Penggunaan gajah perang kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan ke barat di daerah Mediterania. Pada masa Peradaban Hellenis, gajah digunakan oleh Diadokhoi untuk menangkis serangan kavaleri. Di barat, penggunaan gajah untuk perang yang paling terkenal adalah oleh Jenderal Pirros. Gajah perang dalam jumlah besar juga digunakan oleh pasukan Kartago, terutama di bawah kepemimpinan Hannibal.

Seiring perkembangan zaman, taktik perang yang semakin modern ikut menurunkan nilai ofensif gajah. Selain itu, gajah pun semakin sulit didapat. Penggunaan gajah dalam perang di India juga berakhir ketika meriam dipergunakan, gajah pun hanya digunakan sebagai tenaga pembantu. Dalam semua perang yang memakai gajah, umumnya gajah jantan selalu digunakan karena sifatnya yang agresif.


Berikut Peran Gajah dalam Perang di Jaman Dulu:

1. India
Tidak ada bukti pasti mengenai kapan persisnya gajah dipergunakan sebagai sarana perang mulai digunakan  di India. Himne religius Weda India terawal. Rigweda, bertahun antara akhir milenium kedua dan awal milenium pertama SM, menyebutkan tentang penggunaan gajah sebagai kendaraan tepatnya dewa Indra yang mengendarai gajah putihnya, Airawata, namun tidak disebutkan mengenai penggunaan gajah dalam perang, dan lebih berfokus pada peran Indra dalam memimpin pasukan berkuda.

Sementara dalam kisah Mahabharata, yang berasal dari sekitar abad kedelapan SM dalam bentuk terawalnya, dan Ramayana, yang berasal dari sekitar abad ke 4 SM,  menyebutkan adanya gajah perang, mengindikasikan awal penggunaan gajah dalam perang. Raja-raja India kuno sangat memandang tinggi fungsi gajah perang. Beberapa raja bahkan berpendapat bahwa "pasukan tanpa gajah sama lemahnya dengan hutan tanpa singa, kerajaan tanpa raja, keberanian tanpa senjata".

 2. Persia
Dari India, penggunaan gajah dalam militer menyebar ke barat ke Kekaisaran Persia. Di sana gajah perang digunakan dalam beberapa kampanye militer dan pada gilirannya ikut memengaruhi kampanye militer Alexander yang Agung. Konfrontasi pertama antara pasukan Alexander dan gajah perang Persia terjadi pada Pertempuran Gaugamela (331 SM) saat Persia mengerahkan lima belas gajah perang. Gajah-gajah tersebut ditempatkan di bagian tengah barisan Persia dan cukup membuat pasukan Makedonia terkejut, sampai-sampai Alexander merasa harus memberi kurban pada Dewa Rasa Takut pada malam sebelum pertempuran. 

Namun menurut beberapa sumber, gajah-gajah itu tidak banyak terlibat dalam pertempuran karena terlalu lelah setelah melakukan perjalanan panjang menuju medan pertempuran. Alexander menang secara meyakinkan di Gaugamela, namun dia sangat terpukau pada gajah perang Persia. Dia pun kemudian mengambil lima belas gajah perang tersebut dan memasukkannya ke dalam pasukannya dan jumlah itu bertambah ketika Aleksander menaklukan sisa wilayah Persia.


Alexander yang Agung
Ketika Alexander yang Agung memasuki daerah India, dia sudah memiliki pasukan gajah perang di bawah komandonya sendiri. Di India, Alexander harus menghadapi pasukan Raja Porus, yang berkuasa di daerah Punjab di Pakistan modern. Raja Porus mengerahkan antara 85 sampai 100 gajah perang pada Pertempuran Sungai Hydaspes. Alexander melawan dengan hanya mengerahkan pasukan infantri dan kavalerinya, yang pada akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Porus, termasuk pasukan gajahnya, meskipun korban juga berjatuhan di pihak Alexander. 

Alexander terus melaju ke timur sampai dia mengetahui bahwa raja-raja di Kekaisaran Nanda dan Gangaridai mampu mengerahkan antara 3.000 sampai 6.000 gajah perang. Jumlah ini jauh lebih besar daripada pasukan gajah yang dimiliki oleh pasukan Yunani ataupun Persia. Menghadapi kekuatan sebesar ini, pasukan Alexander, yang jauh lebih sedikit, akhirnya memilih untuk menghentikan pergerakan mereka di India. Sepulangnya dari India, Aleksander membentuk suatu pasukan gajah untuk menjaga istananya di Babilonia, dan membuat pos elephantarch untuk memimpin unit gajahnya.

 3. Diadokhoi
Penggunaan gajah dalam perang terus menyebar. Para penerus kekaisaran Alexander, yaitu para Diadokhoi, menggunakan ratusan gajah India dalam perang mereka. Penggunaan gajah perang oleh Diadokhoi yang paling terkenal adalah oleh Kekaisaran Seleukos, yang memperoleh gajah perangnya dari India. Perang antara Kekaisaran Seleukos dengan Chandragupta Maurya (Sandrokottos), pendiri Kekaisaran Maurya, pada 305 SM berakhir dengan penyerahan wilayah timur Seleukos yang cukup luas, yang ditukar dengan 500 ekor gajah perang India. 

Jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan keseluruhan pasukan gajah Maurya, yang disebut-sebut mencapai 9.000 ekor gajah perang. Seleukos menggunakan gajah perang mereka pada Pertempuran Ipsos empat tahun kemudian. Kekaisaran Seleukos juga menggunakan gajah perang untuk menghentikan Pemberontakan Makabim di Judea. Ketika itu, gajah-gajah perang berhasil membuat para prajurit Yahudi, yang menggunakan senjata yang lebih sederhana, ketakutan. Eleazar Makkabeus, pria termuda di antara Hasmonean bersaudara, berhasil membunuh seekor gajah perang dalam Pertempuran Beth Zakaria. Dia menusuk perut sang gajah dengan tombaknya sebelum akhirnya dia mati tertindih oleh badan gajah tersebut. Dia menyerang gajah tersebut karena secara salah mengira bahwa gajah itu mengangkut Antiokhos V, raja Seleukos. Meskipun dia keliru dan akhirnya mati, tindakannya menjadi terkenal.

 4. Mediterania
Bangsa Mesir dan Kartago juga menggunakan gajah untuk perang, seperti yang dilakukan oleh bangsa Numidia dan Kush. Jenis gajah yang digunakan adalah gajah hutan Afrika Utara (Loxodonta africana pharaohensis), yang kelak punah akibat eksploitasi yang berlebihan. Gajah jenis ini berukuran lebih kecil dibandingkan gajah yang digunakan oleh Kekaisaran Seleukos di daerah timur Mediterania, khususnya gajah dari Suriah (Elephas maximus asurus) yang tingginya mencapai 2,5-3,5 meter (8–10 kaki) sampai ke pundak. 

Ada kemungkinan bahwa beberapa gajah Suriah diperdagangkan ke daerah-daerah di sekitarnya. Pendapat ini didukung oleh bukti yang menunjukkan bahwa gajah favorit Hannibal dinamai Surus (dari Suriah) dan kemungkinan berasal dari Suriah. Meskipun begitu, bukti ini tidak terlalu meyakinkan.

Sejak akhir 1940-an, beberapa sejarawan berpendapat bahwa gajah hutan Afrika yang digunakan oleh Numidia, Kartago, dan Mesir tidak membawa rengga (tempat duduk) atau menara kecil di punggungnya dalam pertempuran, mungkin karena fisiknya yang tidak sekuat gajah Asia. 

Beberapa referensi mengenai keberadaan rengga pada gajah perang Afrika hanyalah penggambaran puitis dan anakronistis, namun beberapa sumber lainnya juga tidak bisa begitu saja diabaikan. Ada kesaksian kontemporer yang secara jelas menyebutkan bahwa pasukan Juba I dari Numidia menggunakan gajah yang berengga pada 46 SM. Pendapat ini dididukung oleh gambar gajah Afrika berengga pada koin. Rengga juga diceritakan ada pada pasukan Ptolemaios dari Mesir. Polybius melaporkan bahwa dalam Pertempuran Raphia pada 217 SM, gajah-gajah perang milik Ptolemaios IV membawa rengga; gajah-gajah ini jauh lebih kecil daripada gajah Asia yang digunakan oleh Kekaisaran Seleukos dan kemungkinan juga gajah hutan Afrika.Juga ada bukti bahwa gajah perang Kartago dilengkapi dengan rengga atau menara kecil untuk keperluan militer tertentu.

Di daerah selatan, suku-suku tertentu memiliki akses terhadap gajah Sabana Afrika (Loxodonta africana oxyotis). Gajah jenis ini berukuran lebih besar dibandingkan gajah hutan Afrika atau gajah Asia, namun hewan ini sukar dijinakkan dan karena itu tidak banyak digunakan dalam perang. Ukuran tidak selalu menjadi faktor yang menentukan. Contohnya, gajah yang digunakan oleh Mesir dalam Pertempuran Raphia pada 217 SM lebih kecil daripada gajah Asia milik lawan mereka, Antiokhos III yang Agung dari Suriah. N

amun, pada akhirnya pasukan Mesirlah yang berhasil menang. Beberapa gajah Asia diperdagangkan ke barat, tepatnya ke pasar Mediterania; Plinius Tua menyebutkan bahwa gajah Sri Lanka, misalnya, lebih besar, lebih galak, dan dengan demikian lebih baik dalam perang jika dibandingkan gajah lokal. Keunggulan ini, serta dekatnya pasokan ke pelabuhan, membuat gajah Sri Lanka menjadi komoditas perdagangan yang menguntungkan.

Meskipun penggunaan gajah perang di Mediterania paling sering dihubungan dengan perang antara Kartago dan Romawi, namun gajah perang pertama kali diperkenalkan ke Mediterania oleh salah satu kerajaan di Yunani, yaitu Epiros. Raja Pirros dari Epiros membawa serta dua puluh ekor gajah untuk menyerang Romawi dalam Pertempuran Herakleia pada 280 SM. Dia meninggalkan lima puluh ekor gajah lainnya, yang dipinjam dari Firaun Ptolemaios II, di daratan utama Yunani. Ketika itu pasukan Romawi tidak siap menghadapi pasukan gajah dan pasukan Yunani sukses mengalahkan mereka. 

Setahun kemudian, Yunani kembali mengerahkan pasukan gajah untuk menghadapi Romawi dalam Pertempuran Asculum. Kali ini pasukan Romawi sudah bersiap-siap dengan menggunakan api serta senjata antigajah, yaitu kereta perang yang ditarik kerbau dan dilengkapi dengan tombak panjang untuk melukai gajah dan api untuk menakuti gajah serta dikawal oleh pasukan bersenjata tombak untuk mengusir gajah. Serangan terakhir gajah Yunani pada akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Romawi lagi. Namun, meskipun menang, Pirros menderita kerugian yang sangat besar, sampai-sampai dia berkata bahwa walaupun sekali lagi dia menang, pasukannya tetap akan dihancurkan oleh Romawi. Ungkapan ini kemudian terkenal sebagai istilah yang disebut Kemenangan Piris.

5. Kartago
Termotivasi oleh kehebatan gajah perang, Kartago pun mulai menggunakan gajah perang secara besar-besaran pada Perang Punisia Pertama. Namun, hasilnya kurang memuaskan. Dalam Pertempuran Adys pada 255 SM, gajah perang Kartago menjadi kurang efektif karena medannya kurang menguntungkan. Sedangkan dalam Pertempuran Panormus pada 251 SM, pasukan Romawi berhasil menakut-nakuti gajah perang Kartago, sehingga hewan-hewan tersebut kabur dari medan tempur. 
Pada Perang Punisia Kedua, Hannibal memimpin pasukan gajah perang menyeberangi pegunungan Alpen, meskipun pada akhirnya sebagian besar gajah itu mati karena kondisi lingkungan di sana. Pasukan Romawi sendiri telah mengembangkan taktik anti-gajah perang, yang berujung pada kemenangan Romawi atas Hannibal dalam Pertempuran Zama pada 202 SM. Ketika itu gajah perang Hannibal menjadi tidak efektif karena begitu disiplinnya pasukan manipulus Romawi, yang membiarkan gajah perang Hannibal lewat begitu saja.

6. Romawi
Pada akhir Perang Punisia, Romawi mengambil banyak gajah perang Kartago dan menggunakannya untuk keperluan militer mereka sendiri. Ketika menaklukan Yunani, Romawi mulai mengerahkan pasukan gajah perang, termasuk di antaranya pada Invasi Makedonia pada 199 SM, Pertempuran Kinoskefalai pada 197 SM, pertempuran Thermopilai, dan Pertempuran Magnesia pada 190 SM, saat lima puluh gajah perang Antiokhos III menghadapi enam belas gajah perang Romawi. 

Bertahun-tahun kemudian, Romawi mengerahkan dua puluh dua gajah perang dalam Pertempuran Pidna pada 168 SM. Gajah perang juga digunakan oleh Romawi dalam kampanye militer melawan bangsa Keltiberia dan Galia. Yang paling terkenal adalah ketika Romawi menggunakan gajah perang dalam Invasi Britania. Satu penulis kuno menyebutkan bahwa "Caesar memiliki seekor gajah yang besar, yang dilengkapi dengan baju perang dan membawa menara kecil, yang ditempati oleh pemanah dan pelempar batu. 

Ketika hewan tak dikenal ini menyeberangi sungai, pasukan Briton dan kuda-kuda mereka kabur melarikan diri. Akan tetapi, dia mungkin salah membedakan gajah tersebut dengan gajah serupa yang digunakan pada penaklukan terakhir Britania oleh Claudius. Setidaknya satu kerangka gajah dengan senjata batu api ditemukan di Inggris dan awalnya dikira sebagai gajah Romawi, meskipun kemudian terbukti sebagai kerangka mammoth dari Zaman batu.

Pada masa Claudius, penggunaan gajah perang mulai berkurang. Penggunaan terakhir gajah perang yang signifikan di Mediterania terjadi dalam Pertempuran Thapsus, 46 SM. Ketika itu Julius Caesar mempersenjatai legion kelimanya (Alaudae) dengan kapak dan dia memerintahkan pasukannya untuk menyerang kaki gajah perang yang dikerahkan oleh Romawi. Pasukan Caesar pun meraih kemenangan. Pertempuran Thapsus merupakan penggunaan terakhir gajah perang yang signifikan di Romawi.

7. Sasaniyah
Kekaisaran Parthia di Persia beberapa kali menggunakan gajah perang dalam perang melawan Kekaisaran Romawi. Sementara di Kekaisaran Sassaniyah, yang merupakan penerus Kekaisaran Parthia, gajah perang merupakan komponen militer yang penting. Kekaisaran Sassaniyah mengerahkan gajah perang dalam kampanye-kampanye militer mereka melawan musuh-musuh di barat. Salah satu konflik yang terkenal adalah Pertempuran Vartanantz pada 451 M, saat gajah perang Sassaniyah berhasil menakut-nakuti pasukan Armenia. 
Contoh lainnya adalah Pertempuran al-Qādisiyyah pada 636 M, saat tiga puluh tiga gajah perang dikerahkan oleh Kekaisaran Sassaniyah untuk melawan pasukan Arab. Pasukan gajah Sassaniyah memegang keunggulan dibandingkan pasukan kavaleri Sassaniyah. Pasukan Sassaniyah memperoleh gajah dengan cara memasoknya dari India. Pasukan gajah perang Sassaniyah dipimpin oleh seorang pejabat yang disebut Zend−hapet, atau "Komandan India", entah karena gajahnya memang didapat dari India atau karena gajah-gajah itu diurus oleh orang Hindustan asli. Pasukan gajah Sassaniyah tidak pernah sekuat pasukan gajah India dan setelah Kekaisaran Sassaniyah runtuh, penggunaan gajah perang di daerah ini juga berhenti.

8. Timur Jauh [China]
Di Cina, penggunaan gajah perang agak jarang dibandingkan dengan di lokasi lainnya. Menurut catatan tertua yang pernah ditemukan, gajah perang digunakan pada 554 M, ketika Dinasti Wei Barat mengerahkan dua ekor gajah berbaju perang dari Lingnan ke medan tempur dengan dipandu oleh budak-budak Melayu dan dilengkapi dengan menara kayu serta pedang yang diikatkan ke belalai mereka. Gajah-gajah itu berhasil dihalau oleh para pemanah.

Dinasti Han pada abad kedua SM berperang dengan kerajaan Yue dari Asia Tenggara yang menggunakan gajah perang. Taktik yang digunakan untuk menghalau gajah-gajah perang tersebut di antaranya adalah dengan menggunakan api dan panah busur silang yang sangat banyak di samping menggali lubang dan parit yang diisi dengan tombak.

9. Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, di sepanjang perbatasan Vietnam modern, pasukan Champa mengerahkan sampai 602 ekor gajah perang melawan Dinasti Sui. Pasukan Sui mengalahkan gajah-gajah perang itu dengan membuat perangkap berupa lubang-lubang, selain itu mereka juga menggunakan banyak busur silang.

10. Srilangka
Catatan sejarah Sri Lanka mengindikasikan penggunaan gajah sebagai kendaraan yang dinaiki oleh raja ketika sedang memimpin pasukan dalam pertempuran, dan beberapa gajah tercatat dalam sejarah. Gajah Kandula merupakan kendaraan raja Dutugamunu, sedangkan Maha Pambata, "Batu Besar", adalah kendaraan raja Elara dalam pertempuran pada 200 SM.

Demikian, sekilas info mengenai sejarah gajah perang, sedikit tidaknya menambah informasi buat kita. 

Sumber Pelengkap: wikipedia indonesia.
Link Kami: http://samudrabirucinta.blogspot.com/2011/04/sejarah-gajah-dipergunakan-untuk.html

Tuesday, April 12, 2011

Aksi Berdarah Sang Matador

Samudra Biru - Sebelumnya kita sedikit mengulas apa itu Matador? Matador, secara harafiah berarti pembunuh, adalah seorang torero yang sangat ahli di dalam pertarungan melawan banteng. Torero adalah pelaku utama dalam pertunjukan pertarungan manusia melawan banteng di Spanyol dan negara-negara berbahasa Spanyol lainnya. Aksi Berdarah Sang Matador dalam melawan Banteng selalu menarik minat para penonton.

Dalam pertarungan ini, seorang torero berperan mempermainkan dan pada akhirnya membunuh banteng tersebut. Torero disebut sebagai toreador dalam bahasa Inggris, tapi istilah ini hampir tidak pernah dipakai di Spanyol maupun Amerika Latin.

Hanya seorang torero yang sangat ahli yang dapat naik tingkat sebagai seorang matador dalam sebuah pertarungan melawan banteng yang disebut alternativa. Dalam pertarungan alternativa ini, seorang Novillero (petarung banteng junior) dapat melakukan pertunjukan di depan penonton dan diperkenalkan sebagai matador de toros.

Salah satu matador yang paling terkenal sepanjang masa adalah Juan Belmonte, yang teknik-tekniknya merevolusi pertarungan itu dan kemudian menjadi standar dalam penilaian matador hari-hari ini. Seorang matador yang paling sukses akan diperlakukan seperti seorang bintang, dengan pendapatan yang berlimpah, memiliki banyak penggemar, dan sering digosipkan oleh tabloid. 

Namun demikian, pada saat ini profesi matador tidak mendapatkan pendapatan sebesar pendahulunya pada tahun 1960-an. Media masa juga kebanyakan meliput hanya sedikit matador yang dikenal sebagai "mediaticos" yang tidak termasuk petarung-petarung top Spanyol. 

Dengan sifat pertarungan yang berbahaya itu, lebih dari 40 orang matador telah terbunuh di gelanggang pertarungan. Salah satu petarung paling terkenal dalam sejarah, Manolete, tewas dalam pertarungan pada tahun 1947.

Dan di bawah ini contoh pertarungan Matador dengan Banteng:

Matador Spanyol, Angelino de Arriaga, beraksi melawan banteng di Las Ventas Bullring, Madrid, Spanyol, Minggu (10/4). Foto: AP Photo/ Arturo Rodriguez 

Matador Spanyol, Francisco Pajares, beraksi melawan banteng di Las Ventas Bullring, Madrid, Spanyol, Minggu (10/4). Foto: AP Photo/ Arturo Rodriguez 

Matador Spanyol, Javier Jimenez, beraksi melawan banteng di Las Ventas Bullring, Madrid, Spanyol, Minggu (10/4). Foto: AP Photo/ Arturo Rodriguez 

Matador Spanyol, Javier Jimenez, beraksi melawan banteng di Las Ventas Bullring, Madrid, Spanyol, Minggu (10/4). Foto: AP Photo/ Arturo Rodriguez 


Matador Spanyol, Angelino de Arriaga, beraksi melawan banteng di Las Ventas Bullring, Madrid, Spanyol, Minggu (10/4). Foto: AP Photo/ Arturo Rodriguez 

Demikian, semoga menambah pengetahuan.
Sumber Pelengkap: wikipedia Indonesia
Foto : Vivanews
Link : http://samudrabirucinta.blogspot.com/2011/04/aksi-berdarah-sang-matador.html

Sunday, April 10, 2011

Lomba Balap Keong di Australia

Samudra Biru - Lomba Balap Keong yang Unik di Australia. Selama ini kita mungkin hanya pernah lihat lomba keong atau siput di salah satu episode  film kartun Spongebob Squarepants di TV, hal ini mungkin karena lomba keong adalah lomba yang kurang lazim untuk diadakan dan sangat tidak mungkin menurut sebagian dari kita.

Tapi hal ini tidak berlaku di Australia. Lomba Balap Keong yang Unik di Australia ini menjadi buktinya . 

Lomba unik yang diberi nama World Snail Racing Championship. Dan yang membuat sungguh mencengangkan lagi, lomba ini diakui sebagai eksibisi lomba balap keong tingkat Internasional. Begitu besar mereka memberi penghargaan pada keong-keong tersebut dengan cara yang demikian.

Lomba keong ini rutin diadakan tiap tahun di kota Nortfolk. Dan tak kurang dari 200 ekor keong atau siput siap untuk memenagkan kejuaraan bergengsi di dunia siput ini. Aturan lomba ini tak ubahnya seperti lomba-lomba balap umumnya, yaitu siapa yang terlebih dahulu sampai di garis finish, maka dialah pemenangnya, yang membedakan hanyalah lintasanya, karena lomba keong ini menggunakan lintasan melingkar.
 

Jarak lintasanya pun tak terlalu jauh, hanya sekitar 13 inchi atau sekitar 33 cm. Jadi ketika sang juri memberikan aba-aba "Ready, steady, slow!", maka keong-keong itu pun siap untuk beradu, dan melaju dengan kemampuannya.
 
 
Untuk tahun ini, kejuaraan World Snail Racing Championship dimenangkan oleh keong asal kota Sydney milik seseorang yang bernama Claire Lawrence, Dan tentu saja, hadiah dan makanan tambahan siap menyambut si keong.
 
Demikian, semoga menambah wawasan Anda. salam

Foto-foto Pembantaian Gorilla Tersadis

Samudra Biru - Sungguh jika melihat foto-foto ini begitu miris. Tidak memiliki rasa kemanusian. Hewan yang semestinya di lindungi dibantai beramai-ramai.  

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2007, Kongo (DRC) Taman Nasional Virunga di timur di mana sembilan Gorilla gunung tewas dalam waktu seminggu, termasuk tenaga kerja gorila perempuan. sebagai pemburu gorila yang ikut sebagai tersangka. Para tersangka ini mungkin berhubungan dengan anti-pemerintah bersenjata dengan penebangan pohon atau mencuri dan kriminal. Pembantaian gorila terkejam ini, yang pada saat itu mengejutkan dunia.













sumber foto: forumkami.com

Saturday, April 9, 2011

Salah Tempat Salah Waktu

Wrong Place Wrong Time
Salah Tempat Salah Waktu
silahkan mengaktualisasikan gambar berikut 
menurut sudut Anda. bebas tiada batas, 
sesuai dengan ilustrasi yang terjadi.
pelajaran apa yang dapat diambil
selamat mengamati






sumber foto: ansblog

Friday, March 25, 2011

Foto Proses Telur Menjadi Ayam

Samudra Biru_ Hampir semua dari kita mungkin suka telur ayam, terutama kuning telurnya yang begitu banyak mengandung Protein. tapi pernahkan kita mengamati telur-telur ayam tersebut ketika berproses menjadi ayam? :) ini kali, saya sengaja ingin memperlihatkan Foto Proses Telur Menjadi Ayam :), lihat saja sangat menakjubkan!





















Kalau manusia klik sini dalam bentuk Video semoga menambah rasa cinta dan kasih Ibunda.
Masih berkaitan dengan Ayam, kalau yang ini Ayam Aneh! berjalan layaknya Pinguin klik sini
Jika dirasa manfaat mohon kiranya di share ke sahabat Anda :)