Showing posts with label cerita samudra. Show all posts
Showing posts with label cerita samudra. Show all posts

Monday, February 28, 2011

Sahabat Sejati II

Cerita atau postingan sahabat sejati pertama sebelumnya ada di sini

Nampak kekecewaan terlihat di sorot matanya yang tajam. setelah tahu arti sahabat sejati secara harfiah, kemudian kami duduk ke tempat semula. dihisapnya dalam-dalam rokok putihnya, berharap mengekalkan keadaan, suasana pun hening beberapa saat. malam kian merangkak ke ambang pagi dini hari, angin terasa bersiul di sela-sela pucuk daun.

aku membiarkan dia bermain dengan apa yang sedang dirasakannya, dan berharap dia mau bercerita setelahnya.

"Terus, kalau menurut Mas apa arti sahabat sejati selain dari arti di kamus tadi?". tanyanya kemudian.

"Beng, sangat luas. setiap orang memiliki persepsi masing-masing, dan sama sekali bukan bermaksud menggurui lho ya?", yang pasti Beng!", sahabat sejati lebih berharga dari seribu teman yang mementingkan diri sendiri. apa yang kita alami demi sebuah persahabatan terkadang menjengkelkan juga membuat lelah tapi itulah indahnya persahabatan. 

Sebuah persahabatan seringkali menyuguhkan berbagai cobaan, mungkin ketika kita dibutuhkan saat itu pula kita selalu ada dan menolong tanpa pandang apapun selain niatan sebagai wujud kita ada!", saat dia terluka dalam bentuk ujian apapun yang telah Tuhan berikan kita sedia, tapi sebaliknya ketika roda berputar dan kita diposisi yang sangat membutuhkan, dia seperti menghindar jelas yang demikian bukanlah sahabat sejati Beng!".

Seperti tiba-tiba melindungi dirinya sendiri tiba-tiba memprotec, bersedekap; menyilangkan dada, bahkan sebelum kita berbicara apa dan bagaimananya. seperti menutup pintu depan rumahnya ketika baru memasuki depan gerbang. tidak berlaku lagi sikap manis peluk hangat seperti dulu.

"Terus?", katanya seperti penasaran kali ini. "wah kamu kok malah nanggap dan menginterview aku to?" kayak pak dalang?" seharusnya kamu Beng bercerita, candaku. kami pun tertawa bersama.

Beberapa pelanggan satu dua meninggalkan kami tapi dalam hitungan tak lama beberapa juga datang kembali rata-rata sih sudah aku kenal wajah-wajah mereka jika di atas pukul 12.00 malam lebih banyak yang bermain game online. seperti sudah menjadi brand di benak para penyuka dunia maya jika ingin mencari net hingga pagi dan ditemani kopi bali hanya ada di samudrabiru bucafenet di ujung timur bali ini:).

"Mas, pernah tidak dikecewakan sahabat yang teramat sangat?". tanyanya memecah keheningan.

"Beng, saya rasa hampir semua orang sudah pasti mengalaminya, atau bisa jadi justru kita yang tanpa sadar telah menyakitinya hingga meninggalkan rasa kecewa yang dalam". tapi Beng, seperti yang aku katakan sebelumnya, persahabatan acapkali diwarnai dengan berbagai warna, suka dan duka; dihibur, disakiti, dikecewakan, diabaikan, dibantu, ditolak, namun semuanya tidak pernah dilakukan dengan unsur kebencian".

"Persahabatan tidak terjalin secara otomatis seperti alat buatan manusia, tetapi sebuah persahabatan yang sejati membutuhkan proses yang panjang; seperti besi menajamkan besi, demikian halnya sahabat menajamkan sahabatnya".

"Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, tapi kerna kasihnya dia berani mengur kita apa adanya".

"Seorang sahabat tidak pernah membungkus pukulan dengan ciuman, namun menyatakan apa adanya kendati itu sangat menyakitkan, tentu dengan harapan sahabatnya mau berubah".

"Proses dari pertemanan kemudian menjadi sahabat sejati membutukan satu proses perjalanan yang cukup panjang, seperti yang aku singgung sebelumnya. sebuah kerinduan adalah indikasi yang paling nyata tentang sebuah persahabatan, ketika tiba-tiba saja kita rindu, rindu akan kehadirannya, rindu akan canda tawanya, rindu akan banyak hal yang ada pada diri sahabat kita, sebuah kerinduan yang sulit untuk diterjemahkan dengan kata-kata!". pada akhirnya sebuah kerinduan juga menjadi bagian dari kehidupan sahabatnya, karena tidak ada yang akan bertahan lama dan kekal jika sebuah persahabatan yang diawali dengan sikap egoistis".

"Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati Beng", namun tidak semua orang berhasil membangunnya. Banyak orang yang sudah menikmati indahnya persahabatan namun hancur karena pihak lain; dalam hal ini bisa siapa saja, pacar, rekan lain, dan sebagainya atau memang dari mereka sendiri yang salah satu berkhianat!".

Suara pematik api membakar ujung rokokku. aku terdiam cukup lama sembari menghisapnya dalam-dalam, sementara Beng seperti sengaja memberikan kesempatan kepadaku untuk menata hati, aku rasa dia melihat jelas sorot mataku yang berbicara entah di waktu kapan, nafas yang berat menandakan bahasa tubuhku yang kian nampak terlihat.

"Beng!", kapan terakhir kamu dalam kesulitan?". yang teramat sangat?". rumit menggigit hingga terasa pecah kepala dan nadi-nadimu?". bahkan terlintas sebuah kematian adalah jalan yang paling baik untuk itu?" siapa!".
"eits.......!" tidak perlu kamu jawab kataku cepat.
"Siapa yang di samping kamu?".
"Siapa yang mengasihi kamu?".
"Siapa orang yang bersama kamu?".
"Siapa orang yang ketika dunia seakan-akan sedang tidak mengharapkan kamu?", ada dan dia dekat sekali denganmu?".
"Siapa orang yang seakan-akan bumi seperti menolak kamu
kemudian dia mewarkan tempatnya?", adakah?".

"Beng, aku ada sebuah cerita dari orang tuaku yang bercerita tentang itu jika engkau bertanya tentang apakah ada Sahabat Sejati itu?"....


bersambung .........

Sahabat Sejati

Dalam suatu kesempatan pada malam yang cukup runcing, dengan kopi dan rokok menemani obrolan kami malam itu, sesekali aku harus berdiri untuk membantu melayani beberapa pelanggan yang selesai dari aktifitas ngenet mereka, ya kebetulan aku ada sebuah kesibukan sampingan membuat sebuah usaha jasa media. yang awalnya sekedar hobby akhirnya menjadi serius, semacam kuliah nyataku untuk yang kesekian kalinya. malam hari jika tidak ada agenda hampir aku habiskan di samudra biru bucafenet.

Namanya Beng, begitulah dia memperkenalkan diri, baru kurang lebih ada satu minggu dia menjadi langganan tetap usaha kami. seorang pemuda yang usianya cukup jauh terpaut  di bawahku atau mungkin masih pantas jika dikata remaja, seorang pemuda dari jawa yang mencoba peruntungan di luar daerahnya dan Bali menjadi tujuannya kini. seperti biasa ketika dia selesai dari keperluannya selalu menyempatkan duduk dan berbincang banyak hal denganku.

Seperti malam itu. "Mas, sebenarnya sahabat sejati itu ada tidak sih?". tiba-tiba saja, sebuah pertanyaan yang gampang-gampang susah untuk dijawab. seketika aku tersenyum tidak hanya dalam hati tapi benar-benar tersenyum yang mengembang, entah apa arti senyumanku waktu itu yang pasti aku merasa pertanyaanya seperti mewakili apa yang selama ini ada dalam benakku akhir-akhir ini. 

"mmm... ada tidak ya?, bisa ya bisa tidak". jawabku sekenanya.

"loh kok jawabannya begitu?", layaknya iklan saja, serius ini Mas!.

wah rupanya dia benar-benar tidak hanya sekedar basa-basi. "baik!". kataku.

"agar pasti kita buka dulu satu persatu ya?", arti dari "sahabat sejati" itu di kamus bahasa indonesia?".

"nah ini nih arti sahabat!". "menurut kamus ini, sahabat adalah;
1. kawan; teman; handai: ia mengundang -- lamanya untuk makan bersama-sama di restoran; -- dekat sahabat karib; -- karib sahabat yg sangat erat (baik); teman yg akrab: dia adalah -- karib kakakku; -- kental sahabat karib;
ber·sa·ha·bat v 1 berkawan; berteman: jangan - dng orang jahat; 2 menyenangkan dl pergaulan; ramah: ia sangat -;
per·sa·ha·bat·an n perihal bersahabat; perhubungan selaku sahabat: - kedua orang itu telah berjalan bertahun-tahun;
mem·per·sa·ha·bat·kan v menjadikan bersabahat; memperhubungkan supaya bersahabat; memperkenalkan (dng)

"kita sudah dapatkan arti kata sahabat ya, sekarang kita cari kata sejati". nah! ini dia, sejati menurut kamus bahasa indonesia ini adalah;
1. sebenarnya (tulen, asli, murni, tidak lancung, tidak ada campurannya): bangsa Melayu ~;
"jadi dari definisi masing-masing kata jika di gabungkan sesuai dengan pertanyaanmu tadi menjadi, sebentar ini menarut pemahamanku lho ya?"; sahabat sejati adalah kawan yang sebenar-benarnya.

"lho kok nampak menjadi abstrak begitu sih Mas, artinya!" protesnya.

"lha iya begitu kan jika sesuai dengan arti dari kamus bahasa indonesia?". jawabku

"wah jika begitu?", pantas!".

"maksudmu?". tanyaku penasaran. dia menggelengkan kepala. kemudian,

 "ya Mas jadi selama ini saya belum menemukan sahabat sejati, yang seperti arti yang di kamus ini!".

tiba-tiba dia seperti marah, sebuah kemarahan yang telah lama terpendam, tapi tidak hanya kemarahan tapi juga kekecewaan yang dalam, sorot matanya menerawang.



bersambung, klik di Sini

Saturday, February 12, 2011

Kisah Semanggi Berdaun Empat

Tiba-tiba saya ingin menghadirkan sedikit buah karya dari alex rovira dan fernando trias de bes yang berlatar belakang konsultan terkemuka, saya tempatkan di halaman ruang kata ragam warna samudra biru cinta. mengingat tutur bahasanya yang sederhana tapi memiliki sebuah pemaknaan yang dalam. sepenggal kisah yang mungkin saja akan terus bersambung. di unggah sesuai dengan waktu yang tepat:).

Akan sangat senang jikalau para sahabat mengikutinya dari awal atau berlangganan saja dengan mengirimkan email melalui kotak subscribe kanan atas blog samudra biru ini, tidak perlu cemas email Anda semua akan aman di mesin google feedbunner:) dengan berlangganan secara otomatis feedburner akan mengirimkan postingan kami yang terbaru.

Menciptakan kondisi untuk sukses dalam kehidupan dan bisnis hampir semua orang menginginkannya. dalam legenda Semanggi Berdaun Empat melalui sebuah cerita yang sederhana mampu menggugah rasa.

Ini adalah fabel aneh yang mengajarkan sebuah pelajaran yang berharga. bertutur dengan cerita  fabel tapi di dalamnya ada hal yang dapat kita petik maknanya. di awali pertemuan dua sahabat yang telah lama terpisah kerna sebuah keadaan.

Satu sore yang indah di musim semi, Max seorang usahawan makmur dan bijaksana, dengan berpakaian elegan namun santai, duduk di bangku favoritnya di Central Park dan memandangi banyak pasangan berlalu lalang, anak-anak bermain, dan pohon-pohon berayun ditiup angin semilir.

Max, sedang memikirkan kehidupannya. kaki telanjangnya menginjak rerumputan, yang diselingi dengan semanggi, segalanya tampak menjadi sore yang ingin dia nikmati di central park. seorang Max berusia 64 tahun dan memiliki kehidupan yang penuh dengan keberhasilan.

Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi. seorang lelaki yang berusia kurang lebih sama 64 tahun, duduk di sampingnya: Jim, Jim terlihat seperti orang yang baru habis dipukuli, seorang lelaki yang lelah, namun seorang lelaki yang meskipun begitu, berhasil tetap dengan kehormatan diri.

Jim seseorang yang telah mengalami banyak masa yang  begitu buruk. bahkan bisa dikatakan hidupnya adalah cukup keras selama 50 tahun terakhirnya. segala hal tidak berjalan dengan baik untuknya dengan waktu yang sangat lama.

Saat Jim duduk di samping Max, mereka saling memandangi, keduanya mengenali dalam mata satu sama lain, ya sesuatu yang tidak asing ....... sangat jauh namun sangat akrab.

"Max?" tanya Jim, menegur.
"Jim?" jawab Max.
"Tidak!" teriak Jim.
"Aku tidak percaya ini!" teriak Max.
Mereka berdiri dan tertawa serta saling memeluk erat.

Max dan Jim dulu adalah sahabat yang sangat dekat. dari saat mereka berusia 2 tahun hingga 10 tahun. mereka bertetangga di bronx, lingkungan miskin. mereka menghabiskan tahun-tahun pertama mereka.

"Aku mengenali mata birumu yang unik," Max berkata pada Jim.
"Dan aku mengenali pandanganmu yang jujur serta tulusmu itu.... pandangan yang dulu kamu punyai ... 54 tahun yang lalu dan tidak berubah sedikit pun," jawab Jim.

Setelah mengenang dan berbagi beberapa memori masa kecil mereka, Max berkata:
Sahabat lamaku, beritahu aku bagaimana keadaanmu. aku melihat sedikit kesedihan dalam mataku."


bersambung ..........


samudrabirucinta.blogspot.com

Thursday, February 3, 2011

Wanita Misterius Beraroma Wangi

Sudah empat kali aku didatangi, akhirnya aku bagi cerita sedikit misterius ini di ruang kata ragam warna samudra biru cinta, wanita berambut panjang dengan wajah menunduk itu datang diantara rasa kantuk yang hebat menyerang ketika dipembaringan. terakhir kali semalam, ingin rasanya melihat wajahnya diremang cahaya ruang, yang mana aku pergunakan sekaligus tempat kerja, menuangkan segala ide dan rasa.

Aku berfikir logika saja pada awalnya, hanyalah halusinasi semata diantara tidur dan setengah sadar. tapi ketika ke empat kali dengan peristiwa yang sama tentu membuatku sedikit bertanya-tanya. siapa gerangan? 

Wanita itu menampakkan diri tidak mengganggu, hanya terkadang sedikit usil mendekap dari belakang, ketika aku tengah terlelap dalam runcingnya malam. pada hari pertama kehadirannya, masih ingat dalam lekatan dia hanya diam memandang dengan sedikit mencondongkan wajahnya yang samar tepat disiku berbaring miring. menghadap kiblat, dia seakan-akan hendak mengutarakan sesuatu. lama aku diamkan, sembari berfikir semua ini hanyalah mimpi. 

Di tengah-tengah rasa penasaranku yang mengambang mengarahkan pandangan ke area yang mampu aku jangkau dalam remang malam, memastikan aku sedang  berada dalam ruangan yang selama ini aku tempati.  lambat laun kesadaranku benar-benar pulih dengan ditandai suara-suara binatang malam serta silir angin, dan wanita itu menghilang meninggalkan jejak aroma wangi yang belum pernah aku temui selama ini.

Satu hal yang semakin membuatku bertanya-tanya, kehadirannya selalu ditandai rasa kantuk yang sangat secara tiba-tiba, sungguh mengherankan dalam hitungan yang tidak begitu lama saat sedang asyik didepan layar dan bersemangat menuliskan segala hal juga membaca note beberapa kawan, rasa kantuk itu hadir secara tiba-tiba. 

Seperti pada malam itu, kopi bali yang aku seduh belumlah setengah aku teguk sebungkus rokok putihku  masih setia menemani tapi rasa kantuk hadir bersama buaian angin malam, yang silirannya menyisir hingga ke sela-sela pori. terkadang lupa  sekedar mematikan layar monitor juga lampu penerangan di meja kerja.

Wanita misterius dengan rambut hitam panjang beraroma wangi berwajah samar, apakah dia penghuni ruangan di mana aku telah tempati selama ini?. ah, barangkali hanya imajinasiku saja yang tinggi, hingga terbawa ke alam mimpi, mewujud seorang bidadari pagi:)


Salam




Sunday, December 19, 2010

Kalau Ini Kucingnya, Lantas Mana Dagingnya?

Foto: Rumi
Bali, SamudraBiruCinta.com._Dahulu kala terdapat seorang Lelaki yang menikahi seorang wanita yang, mungkin secara santun dapat disebut, menyusahkan. pernikahan itu bahagia, kecuali satu hal; si istri selalu berbohong pada suaminya. kebohongan juga terjadi pada suatu hari saat si suami mengundang seorang teman dekatnya untuk makan malam. kerna tamu itu teman karibnya, dan ingin menghormatinya, lantas dia membeli daging yang bagus dari seorang tukang jagal.

"Masaklah daging ini," katanya pada istrinya, "sebab malam ini kita kedatangan tamu." setelah berkata demikian sang suami pun berangkat menuju tempat kerjanya. dalam benaknya sudah terbayang jamuan makan yang menunggunya petang nanti.

beberapa jam kemudian, tatkala sang surya masih tinggi, si istri yang serius memasak daging itu, mulai merasa lapar.

"yang akan kulakukan, " dia menalar dengan logika yang selalu dibanggakannya, " adalah memasak daging itu dan memakannya seiris tipis. cukup untuk menenangkan perutnya yang kosong, tapi sangat kecil sehingga suamiku dan tamunya tak akan memperhatikan."

akan tetapi, yang dia lupakan adalah bahwa pikiran yang terlintas saat rasa lapar melanda memiliki logikannya sendiri. segera saja daging itu masak dan aromanya, campuran berbagai bumbu yang lezat memenuhi ruangan; dan tak lama kemudian, setelah sesuap demi sesuap, setelahnya "oh, seiris lagi tak mengapa". sesudah "aku akan potong bagian sebelah sini agar potongannya rapi", daging itu pun habis.

astaga! si istri tak punya uang untuk membeli sepotong daging lagi. apa yang akan suaminya katakan di hadapan tamu mereka? hanya ada satu pemecahan, pikir si istri. dia akan bilang pada suaminya bahwa seekor kucing memakan daging itu.

dan itulah yang dilakukannya. "oh, suamiku!" dia berlari memburu suaminya dengan air mata terurai saat suaminya pulang kerja sore itu. "kucing itu ... kucing itu telah memakan daging itu!"

"kucing memakan daging itu?" ucap sang suami yang jelas tercengang.

"semuanya," kata si istri dengan gugup.

"semuanya?"

"semuanya."

selama beberapa saat sang suami tercenung. kemudian dengan suara keras dan mengancam dia memanggil pelayannya. "ambilkan aku kucing itu .. dan timbangan."

setelah pelayan melakukan apa yang diperintahkan, sang suami menimbang kucing itu lalu mengangguk-angguk sendiri, merenung dan wajahnya nampak bingung.

"kucing ini menyantap semua daging itu?" tanyanya sekali lagi.

"seluruhnya."

"kalau begitu ini adalah keajaiban!" seru sang suami dengan nada keras.

"keajaiban apa, suamiku tersayang?" tanya si istri selugu orang yang baru saja memakan tiga pon daging.

"pagi ini aku membeli daging seberat tiga pon." sang suami berpaling kearah istrinya, sembari menenteng kucing itu. "kucing ini bobotnya tepat tiga pon. jadi beri tahu aku istriku tersayang?. kalau ini kucingnya, lantas di mana dagingnya? kalau ini dagingnya, lalu di mana kucingnya?"



dari cerita tersebut, Rumi menyimpulkan, " Kalau engkau memiliki tubuh, lantas di mana jiwanya? kalau engkau adalah jiwa, lalu tubuh itu apa? itu bukan masalah yang harus kita risaukan. Keduanya serupa. jagung adalah sama dengan biji jagung atau batang pohon jagung.


sumber pelengkap;
the kingdom of joy untaian "kisah menawan dari Matsanawi Rumi"
http://samudrabirucinta.blogspot.com

Friday, November 12, 2010

kenangan bersama empat sekawan

: ahmad wibowo
kenangan

tas punggung sepatu bergerigi, nampaklah sebagai pendaki yang penuh dedikasi. berempat dalam kata sepakat tertawa dengan penuh percaya dan persiapan yang tidak biasa seperti halnya ke kampus merah putih kita ( kamu tahu padahal hanya gunung ungaran ) bukan himalaya atau puncak jaya wijaya.

ah! tidak sepertimu kawan? ratusan gunung di pertiwi ini sudah engkau cumbui hingga aroma setiap lekuk alam itu kamu kenali pasti. potret juga berbagai batu engkau bawa sebagai tanda bukti katamu suatu hari pada kami. yang berjejer rapi memenuhi salah satu sudut kamarmu yang sempit di kost kita.

wahai engkau jiwa yang merdeka di alam? masihkah di ingatan memukim cerita tentang kita? satu diantara kita muntah kerna jantung tibatiba berpacu tak menentu? satu lagi memerah di raut menahan lelah yang sangat? dan aku sendiri seperti sedang membawa beban yang teramat berat mengerami di kedua kaki.

o, heran benarbenar heran engkau dengan tenang tetap melangkah tanpa hilang dari pandangan lurus ke depan. seakan jejak kakimu sedang berkomunikasi dengan tanahtanah merah di lereng itu. sini sini katamu', aku bawa semua tas rangsel kalian. aih... malunya saat itu kawan, beberapa remaja belia dengan riang mendaki tanpa kelelahan. o, ada apakah dengan kami?

di pos mawar kita berhenti, merawat salah satu dari kami. hahahaha... kita semua tertawa, menertawai kemampuan yang Tidak nampak di awal seia sekata sebagai pendaki sejati. janganlah meremehkan, janganlah menyepelekan, janganlah menganggap enteng, janganlah menyesal bila sudah setengah jalan kita tempuh terus kayuh dan lanjut katamu menyemangati. setelah satu dari kami berkeinginan tak ingin melanjutkan.

malampun tiba tanpa tenda kita rebahkan raga, hilang lelah seketika saat menyaksikan hamparan pemandangan yang tidak pernah dilihat sebelumnya jutaan sinar di kejauhan yang melambai tanpa bisa terucap kata, dalam ketinggian beratap langit dengan mata takjub menerka nerka dalam benak. tentang bintang, tentang bentang langit yang di sinari temaram rembulan, tentang suara makhluk malam yang beraneka ragam serupa alunan symponi yang tak tertandingi, tentang kisah masingmasing dari kita yang entah apa tibatiba saja seperti peluru berdesingan silih berganti dipekat, memberondongi malam itu dengan impian impian tentang kehidupan ke depan.

ya, di tepi hutan cemara malam kita berkisah dan tertawa penuh lepas hingga tandas atawa kerna pengaruh candukah kita? hahahaha, kita tertawa diiringi cekikian sepanjang malam yang kian meruncing dan menusuk jaket dan selimut yang berlapis tembus ke tubuh kita. padahal kopi panas dan juga rokok tak henti menemani berharap mengekalkan keadaan. dan terlelap dengan buaian siliran lembut angin lereng gunung ungaran yang perawan malam itu.

dan mentari pagi pun membangunkan kita dengan sinarnya yang ramah. mensucikan diri dengan air bening lereng pegunungan lantas bergegas mendaki kembali. ah, terimakasih kawan, pengalaman itu meski sederhana tak akan hilang.

tulisan sederhana ini saya tujukan buat kawanku akmad wibowo yang hingga detik ini masih dan entah sampai kapan akan selalu mendaki puncak-puncak gunung tertinggi di Indonesia bahkan Dunia. 

foto: ahmad wibowo

Tuesday, February 2, 2010

SEBUAH KISAH PULUHAN TAHUN YANG LALU

cahaya di pekat malam


dalam mimpi malamnya seorang bapak bercerita. saat itu usia putra bungsunya baru tiga tahun, dengan selendang batik khas jawa melingkar membalut tubuh ringkih anaknya yang memerah tak berdaya kerna wabah. di gelap pekat malam tanpa pelita. berjalan diantara kabut malam dari gunung lawu. menyusuri jalan sepi di ujung desa yang tak bernama. dengan tatapan mata kosong pasrah padaNya. sesekali berhenti dalam gelap malam memandang wajah mungil di gendongan, memastikan sang anak masih bernafas.

ingatannya melayang, teringat segala upaya t'lah dilakukan hingga hal-hal yang diluar logika pengobatan pernah di jalankan namun tak jua memberikan hasil seperti yang di harapkan. menginginkan keceriaan sang anak bungsunya seperti dulu lagi.

teringat pula kehidupan keluarganya yang sangat sederhana beberapa anaknya harus merantau dalam usia yang masih belia. tak dapat melanjutkan sekolah karena keadaan. sementara sang istri setiap hari selepas subuh ke pasar, setelah semalaman tak tidur menganyam tikar untuk sekalian dibawa serta. sang istri bekerja serabutan sebagai buruh panggul, atau sesekali berjualan sayur kala ladang kecil mereka menghasilkan rimbun segar hasil bumi.

di pinggir palang pintu rel kereta, di gelar dagangannya dengan seadanya. beratapkan payung hitam sekedar untuk tempat berlindung dari sengatan matahari atau hujan yang sewaktu-waktu menyapa. jika bunyi khas tanda dari kereta hendak lewat, dia buru-buru bergegas merapikan dagangannya membawa ke sisi yang agak jauh. menunggu kereta yang nampak angkuh meliuk melibas lepas dari pandangan. kemudian kembali mengulangi kegiatannya selepas kereta berlalu. dia sebenarnya ingin memiliki tempat yang layak di kios pasar. namun tak ada kekuatan lebih untuk mewujudkan. apabila berjualan di sela-sela gang toko kerap kali di usir si pemilik atau petugas pasar. dengan terpaksa mereka akhirnya menempati di pinggir palang pintu rel kereta api tanpa terusik, kendati menyadari sangat mengganggu juga keselamatan diri. namun semua demi kelanjutan denyut nadi anak-anaknya yang menanti.

saat debu kemarau merenangi udara kota
serupa berlomba menerpa sebanyak yang mereka suka
menerjang membawa kibasan api di siang hari
meliuk menari di riuh rendahnya keramaian pinggir rel kereta

buat dia juga mereka-mereka tak surut nyali,
kendati matahari tak bersahabat merajam kulit
wajah-wajah anaknya jauh lebih perkasa
di banding gerah cuaca yang menerpa

hujan angin tak menjadi kendala,
sekalipun rasa nyeri menusuk tulang senjanya
untuk putranya jauh lebih berharga,
kendati hawa dingin menggigilkan raga

lelah letih yang mendera tak dirasa
demi bakti pada kelanjutan hidup sehari-hari
menuntut berdiri dengan tubuh tegar tiada keluh
keceriaan sang anak menjadi suluh semangat tak akan mati

di saat senja tenggelam meninggalkan sinar jingga. barang dagangan yang tersisa di masukkan ke dalam karung goni yang lusuh. melangkah pulang dengan rasa syukur yang mendalam membawa hasil buat anak-anaknya tercinta. berjalan kaki, sembari menggendong beban di pundaknya menyusuri rel kereta api, yang menghubungkan di ujung desa menuju gubuk sederhana berpapan anyaman bambu yang mulai lapuk di makan usia.

namun ada yang terasa beda kali ini, putra bungsunya tak lagi ada di pintu pagar menyongsong kepulangan ibu seperti biasanya, setiap hari saat menjelang maghrib putranya selalu berdiri di pintu pagar rumahnya dengan wajah ceria menyambut dengan berlari-lari kecil menggamit lengan sang ibu. sudah genap tujuh hari sang anak tergolek tak berdaya di dipan kayu tua peninggalan kakeknya.

di malam itu sang bapak terus berjalan ke arah barat seperti tak berujung pangkal, di sisi bahu kiri menyusuri jalan dengan langkah hati-hati. di sepanjang jalan tak satu pun rumah ditemui tiada pula manusia juga suara-suara binatang malam. yang terlihat hanya kabut putih samar menghampar seakan mengurung mereka, membawa angin dingin yang menusuk ari. dalam gelap pekat yang sunyi senyap sembari mendekap erat putranya, mencoba memberi sisa-sisa kehangatan dari raganya. sesekali mengusap lembut wajah anaknya yang sudah terlihat pucat pasi dalam diam. dengan kepasrahan yang teramat sangat dia bermunajat memohon dengan hati yang lirih menghujam ..

"duh Gusti ... apabila anak kami menurut-Mu akan lebih baik bila dia di sisi-Mu maka ambillah segera kami telah mengikhlaskannya, namun jika menurut-Mu anak kami kelak memberikan manfaat pada sesama maka sembuhkanlah .."





to be ...



anto hprastyo

Thursday, January 14, 2010

cerita di suatu malam penantian

by anto hprastyo


: menjemput di bulan januari 2010


malam dibungkus dingin, satu jam berlalu aku menunggu. di sudut ruang remang kedai kopi bali duduk seorang diri. lalu lalang orang-orang dengan segala tujuan. trolli besi di tarik petugas berderit-derit menggilas koridor penjemputan. roda-roda kecil tas diseret dengan sarat beban diatas ..

hemm.. senyum mengembang, peluk cium terekam ada pula wajah gelisah menatap lekat pintu cermin kedatangan.

aroma kopi di depanku masih saja menggoda rasa. seperempat kini tinggal airnya, hitam legam warnanya
seperti bercerita padaku bagaimana ia melalui perjalanannya hingga sampai akhirnya menerjang kerongkonganku di kedai ini. ah, betapa banyak ilmu yang dapat terurai gumamku. cap bibirku masih nampak melekat di lingir cangkir porselen cina putih susu.

masih tetap sama, orang lalu lalang, trolli berderet kini serupa kereta tak bernyawa menunggu diperhatikan. tas besar kecil rangsel di punggung merangsek seperti meminta segera mengajak pergi. wajah-wajah dengan segala rupa, bungah kala bertemu yang di nanti. cemas kala yang di tunggu tak muncul di balik pintu penjemputan.

begitupun mataku tak lepas menatap lekat pintu keluar kedatangan, mengharap segenap harap sua. untuk kesekian kali usai pengeras suara mengusik sesaat lamunanku. tak lama berhamburan orang-orang keluar seperti tak sabar. kini giliranku beringsut berdiri, melihat pintu yang sedari tadi kutatap lekat.

dari sisi kiri kuamati, menyebar memperhatikan satu persatu dan berharap itu kamu. yaa.. kamu yang telah mengusik hari-hariku, memainkan alam fikirku, membuai dalam bayang indah tentang kamu. menemani sunyi sepiku saat dalam sendiriku.

bentang malam kian beranjak, diantara kerumunan orang-orang itu aku tak menemukanmu, dimana kamu? bukankah ini jadwal burung besi yang membawamu ke kota sunyi ini? ah, ponselku berdering ada sebuah pesan masuk tertulis " assalamualaikum mas anto hprastyo" hemm .. rupanya engkau sudah ada di sekitar tempatku berdiri, di batasi bangunan yang dibiayai dari uang rakyat itu. yang konon menghabiskan milyaran untuk sebuah kenyamanan. dan di sisi yang lain telah menyisakan pedih bagi para pejabat yang sudah diganti. koran-koran lokal berlomba-lomba memberitakan tentang korupsi itu? dan masuklah bui kini, tragis tragis bathinku ..

rinai gerimis kecil menitik menerpa dedaunan taman kecil di koridor penantian, kemerisik suaranya semakin menambah dingin malam. angin dari arah pantai selatan seolah bersiul pertanda akan datang bergelombang. kuhangatkan tubuhku yang hanya memakai kaos oblong hitam dengan bersedekap rapat sesekali ku hisap sekedarnya rokok putih yang sedari tadi setia menemani berharap mengekalkan suhu kulitku.

meski sekujur tubuhku dingin tak mengapa. aku rela menghampar menjadi rerumputan lembut, permadani yang menjagamu dari pucuk-pucuk duri. menjadi alas kakimu agar tetap bersih suci hingga nanti. sebelum langkahmu terhenti dan menepi di sisi ujung istirah malammu.

harum buih kopi kini tak terasa lagi aromanya mengusik nurani. tinggal ampas yang mulai mengering mengendap di dasar cangkir porselen, lerap mengendap tak bergerak. beranjakku meninggalkan kedai itu sembari menyodorkan uang ribuan yang tersisa di kantong celana belelku.

kembali kerumunan orang-orang berhamburan, kini aku meyakini setelah pesan singkat itu masuk ke ponselku, kamu ada diantaranya ..


(bersambung)

Friday, January 1, 2010

cerita di suatu siang pengemis kecil ~ by anto hprastyo

: pengemis kecil

di sudut kota .. anak kurus tubuh kecil berbaju dekil. usia satu windu rautnya. di pojok toko emas disebuah kota kecil. entah dari mana datangnya. tiap hari tangannya menengadah memelas. sesekali orang-orang memberinya ikhlas .. namun banyak pula yang memberi dengan tatapan mata beringas .. ada pula yang berlalu begitu saja sekalipun hanya senyum seulas panas terik matahari senantiasa menjadi sahabatnya.

siang.. jelang pertengahan dia bergegas.. berlari melesat sergap mencari sisasisa makanan. di sebuah restoran berkelas .. berebut dengan binatang piaraan para tuan dan nyonya : yang sedang di atas ..













amlapura-bali
25 agustus 2009