Showing posts with label surat cinta. Show all posts
Showing posts with label surat cinta. Show all posts

Saturday, October 30, 2010

Ketika Hujan, Wanitaku

















sederhana saja; menikmati berdua sepanjang malam, ketika hujan.

kembali hujan, sekelebat di masa datang aku melihat kita sedang duduk menikmati seduhan teh hangat yang engkau sajikan sayang. tak banyak kata, selain senyum mengembang tanda bahagia. engkau sandarkan kepala di bahuku manja, sepasang matamu yang bening tak henti melihat titik-titik air yang jatuh dari pucuk-pucuk dedaunan di taman rumah kita.

sesekali jemarimu menyisir rambutmu yang hitam tergerai tertiup angin yang cemburu pada kemesraan kita. semakin larut, kian lebat tangisan langit yang gelap. terasa sangat degap dadamu mengalir hebat. mengurai rasa yang lama terpendam masa yang telah terlewat.

tiktak jam yang melingkar erat di tangan seakan beradu cepat bersama luruhnya air. ketika bahasa tubuhmu merajuk dalam peluk hangat. runcingnya malam seakan mengitari raga kita. beberapa diantaranya nakal meniup lembut ditengkuk juga di selasela bahasa tubuh kita.

o, untuk kesekian kali lenguhan kecil kembali terdengar lirih dari bibirmu. di tengahtengah kepungan bias butiran bening yang melayang turun, membelai rautmu yang ayu. sesekali aku melirikmu, ehhmm, engkau menggoda seakan-akan tak melihat jika sedang aku pandang sedemikian rupa.

ah, engkau terlihat malu? o, padahal kita sepasang raja dan permaisuri pada malam itu bukan?. engkau hanya membalas dengan tubuh yang kian menenggelam pada bahuku juga genggaman jemarimu yang erat menghangat. aroma wangi tubuhmu juga rambutmu, seakan menantang untuk dihirup dalam dalam. tanpa terasa mataku terpejam dan tibatiba cahaya Kilat yang sangat kuat menerpa wajahku dan ... buyarkan lamunan. oh ...


Wanitaku

wanitaku, di bathin di benak di dalam tengkorak batok kepalaku tibatiba serupa angin, tak terbentuk tak terlihat, tetapi terasa kuat gejolaknya. membadai sangat hingga ingin meledakkan isinya .

wanitaku, aku terjerembab pada kubang tanah merah. aku terlalu asyik bermainmain dengan waktu, aku tersadar ketika nafasku sesak terhimpit lumpur yang mulai mengering.

wanitaku, pintakan Tuhan kirimkan hujan di tempatku terkubur.


oktober
2010

Tuesday, September 28, 2010

pesan sederhana

ketika engkau merinduiku, pandanglah di sudut kanan atas sajadah biru yang aku berikan padamu. ada sebuah nama tersulam benang emas, tanda mata cinta kita terlukis manis di sebaliknya sayang ....

ketika engkau mencemaskanku, disaat peluh langkah kaki-kakiku menyusuri jalanan. segeralah basuh wajahmu dengan air wudhu. lantas, bergegas memohon padaNya agar engkau dan aku senantiasa dalam LingkupanNya selalu.

ketika engkau menduga kerna prasangka dari kabar yang belum benar, bicaralah dan tanyakan kepadaku sayang ... tanpa perlu ada rasa takut dan bimbang. aku akan menyambut dengan senyum yang tulus serta senang, meskipun itu pahit yang menggigit sekalipun.

ketika engkau meragu akan sikapku, ingatkanlah kembali dalam benakmu wahai sayang, bahwa aku ini serupa gelombang samudra, yang sedang menari meliuk mencari bentuk. membuat katakata yang sederhana mewujud yang patut di sebut maha karya untuk kita nikmati berdua dengan anak-anak kita kelak.

sayang, ketika engkau jauh dari jarak pandang penglihatanku, jagalah kehormatanmu sebagai wanita muslim yang anggun mempesona dengan bahasamu yang santun meminta ijin padaku yang sedang berjuang, disaat kakimu melangkah keluar dari pintu bilik hangat kita.

dan ketika engkau sendiri di malam hari, keluarlah sebentar sayang ... jika ada bintang yang paling terang diantaranya pastikan itu aku, belahan jiwamu .... ya?

Friday, August 20, 2010

Surat Cinta Biru ~ anto hprastyo

Surat Cinta Biru kami hadirkan di Samudra Biru Cinta, banyak hal yang terjadi ketika sebuah pertautan terjalin. ada senang ada sedih ada kemelut ada yang terenggut dan lain sebagainya. kami mencoba merangkai sebuah kata-kata yang sederhana, barangkali dapat menjadi sebuah ilustrasi ketika hal tersebut menimpa sahabat. selamat menikmati semoga berkenan.

Surat Cinta Biru

dik, sudah aku simpulkan di kaki merpati jantan saat fajar tadi. sepucuk surat biru untukmu. setelah engkau membacanya, simpan dia dengan sepenuh hati. hingga suatu hari nanti, saat uban dan gigi tanggal kerna usia senja, kita baca kembali berdua susuri tepian samudra biru cinta. sembari bercerita tentang kisah mutiara yang berkilau cantik, juga batubatu karang yang tegar setia dari hempasan riuh ombak seperti halnya jalinan kita.

dik, sudah kita tanam bibit kasih diantara kita. yang telah merimbuni kita dari segala terik, runcingnya malam juga suasana yang melilit daya. kelak, ketika masa telah tiba. buahnya kita petik dan nikmati bersama dalam bilik hangat, yang senantiasa bercahaya penuh cinta dan bahagia dalam lingkupanNya.

dik, sudah dua belas purnama masa jalinan kita, meski sempat kabut kehidupan menutup sekian masa tautan kita. bila Tuhan berkehendak, tidak akan ada satu insan pun yang dapat menghalangi kuasaNya. o, jelitaku yang baik tahukah engkau? aku memilihmu semata bukan kerna ragamu yang mempesona mata para pecinta, namun lebih kepada sikap laku santunmu yang meluluh lantakkan raguku tentang wanita. hatiku berkata engkau 'beda' dari yang telah datang sebelumnya.

dik, sudahlah lipat masa yang telah lewat dari lelah letihmu yang tak berkesudahan. kuburlah tanpa iringan doadoa tentang kisah penghianatan juga peran topeng ganda yang dimainkan para pemburu nafsu. masa lalu adalah guru kehidupan yang berharga, sebagai pijakan ke jalan yang lebih terang sepanjang bentang masa kehidupan ke depan kita.

dik, ingin rasanya jemari ini melukiskan warniwarna indahnya engkau. tetapi senyum dan tatapmu yang bening membuatku jujur tak dapat mengeja katakata, selain diam dan mengurai pelanpelan di dalam hati, kemudian dengan kesungguhan akan aku tunaikan kembali di surat cinta biru berikutnya dalam kisah yang penuh makna tentang kita berdua.



salam

impian dapat berlibur satu bulan di tempat seperti ini:)

agustus 2010
amlapura
bali



Sunday, May 9, 2010

CINCIN ITU (catatan kecil buatmu)

sederhana saja

CINCIN

tanpa sepengetahuanmu selama ini ..
sepulang gajian aku buru-buru ke toko emas
dengan penghasilan dari peluh dan keringat
seorang pegawai kecil di sebuah tempat
beberapa saat aku hanya menatap,
deretan gemerlap cicin di etalase toko senja itu.

akhirnya aku memutuskan, mengambil yang cantik
diantara yang ada, Bismillah semoga engkau suka
ingin ku persembahkan padamu sebuah cincin
tepat di hari Ulang Tahunmu.

aku pulang dengan hati yang riang
terbayang engkau akan menerima senang
mengucap bismillah aku sematkan di jemarimu sayang

cicin itu masih tersimpan hingga kini
sesekali aku pegang dan menatap dengan lekat
di kesendirianku pada sudut malam remang kamar

akankah sampai ke jemarimu?
juga menerima segala bahagia ke depan

entah, engkau yang tahu juga Tuhan
setelah kabar dari seberang
engkau memilih jalan sendiri
bersama angan dan harapan




PADA CINCIN

jejak membayang di tiap waktu...
di awal jumpa hingga sampai saatnya Tiba,
cerita tentang gelombang juga riuh ombak samudra.
meriwayat dalam lingkaran cincin yang akan dikenakan
melukis manis membelai kasih hingga di penghujung Akhir.

tertera pada akhirnya menuai janji...
menggenapkan asa yang selama ini terbina
dalam doadoa cinta di sepanjang siang dan malam
peluh dan keringat menjadi bukti.
mengkristal menjadi mutiara
cinta Ilahi

teriring doa memutar tasbih
menghias angan suci yang telah terpatri
genggaman erat jemari pinangan menuju Altar Suci

senyum mengembang tatkala sua dua jiwa
menyatu dalam naungan alun Kalam Ilahi
berbalut busana islami mengucap janji
di atas Kitab Suci menjadi Saksi
: terpautlah keduanya

masa membentang penuh cinta...
dalam biduk yang melumur doa doa
bagikan rasa kasih sayang yang kian lapang adanya.

makna dari sebuah pemberian tulus...
cincin mungil yang melukis tautan hati
saling mengikat penuh cinta,
hingga masa Tiba menuai bukti.

: pada Akhirnya
jemari putih senada warna ikatan
meliuk menari menjentik nakal
dalam remang di sudut taman
akupun beringsut mendekat
mengucap salam
: dalam diam


Mei, 2010
Bali